Selasa, 26 Januari 2010 /

SILSILAH RAJA LONTUNG




Anak sulung Raja Lontung bernama Situmorang(sebagian orang berpendapat Sinaga ialah anak sulung Raja Lontung) , mendiami daerah Sabulan(Samosir).

Selain di Sabulan marga Situmorang juga ada di Samosir selatan.

Marga Sinaga didapati juga di Samosir selatan dan selain itu di Dairi dan di tempat lain.
Di Simalungun terdapat marga cabang Sinaga yaitu: Sidahapintu, Simaibang, Simandalahi dan Simanjorang. Di daerah Pagagan-Dairi didapati juga marga Simaibang dan Simanjorang, di Sagala-Samosir juga ada marga Simanjorang.

Pandiangan pindah dari Sabulan ke Palipi-Samosir. Marga Pandiangan tinggal di Samosir selatan dan ada juga yang ke Dairi. Kemudian karena didaerahnya terjadi kemarau dan bahaya kelaparan, sebagian dari marga Gultom meninggalkan Samosir ke daerah Pangaribuan(Silindung). Dikemudian hari ada juga marga Harianja dan Pakpahan ke Pangaribuan.

Nainggolan pindah dari Sabulan ke daerah yang disebutnya Nainggolan di Samosir. Keturunan Nainggolan ada juga di daerah Pahae.

Marga Simatupang terdapat di daerah Humbang, selain itu ada juga yang ke daerah Dairi, Barus, dan Sibolga. Marga Aritonang tinggal di daerah asal Humbang dan ada sebagian tinggal di Harianboho-Samosir.

Siregar pindah ke lobu Siregar-dekat Siborong-borong. Dari situ marga Siregar berpencar sampai ke Tapanuli Selatan melalui Pangaribuan. Sesudah Lobu siregar ditinggalkan daerah itu didiami oleh marga Pohan.

Marga-marga di Dairi yang berasal dari keturunan Lontung diantaranya: Padang, Berutu, Solin dan Benjerang.

Marga Peranginangin di tanah Karo masuk ke golongan Lontung.

Anak-anak si Raja Lontung( Si Sia Sada Ina):




Toga Situmorang (Situmorang).
1. Raja Pande.
2. Raja Nahor.
3. Tuan Suhut ni Huta.
4. Raja Ringo (Siringoringo).
5. Sihotang Uruk.
6. Sihorang Tonga2.
7. Sihotang Toruan.

Toga Sinaga (Sinaga).
1. Raja Bonor >> Sidahapintu.
2. Raja Ratus >> Simaibang.
3. Sagiulubalang(Uruk) >> Simandalahi, Simanjorang.

Toga Pandiangan (Pandiangan).
1. Raja Humirtap (Pandiangan).
2. Raja Sonang/Samosir (Gultom, Sidari, Pakpahan, Sitinjak).
- Sidari>> Harianja.

Toga Nainggolan (Nainggolan).
1. Toga Batu (Batuara, Parhusip)
2. Toga Sihombar(Rumahombar, Pinaungan, Lumban Siantar, Hutabalian)
- Pinaungan >> Lumbantungkup, Lumbanraja.


Toga Simatupang (Simatupang).
1. Sitogatorop.
2. Sianturi.
3. Siburian.

Toga Aritonang (Aritonang).
1. Ompu Sunggu.
2. Rajagukguk.
3. Simaremare

Toga Siregar (Siregar).
1. Silo.
2. Dongoran.
3. Silali.
4. Sianggian.

Siboru Anak Pandan (menikah dgn Simamora).
Siboru Panggabean (menikah dgn Sihombing)

komentar (0) / Read More

/

Sejarah Marga Siregar

Siregar adalah anak bungsu dari 9 bersaudara yang terdiri dari 7 laki - laki dan 2 perempuan, anak keturunan dari Si Raja Lontung dan istrinya Si Raja Pareme.

Pada awalnya, Si Raja Lontung bermukim di Desa BANUARAJA yang terletak diperbukitan diatas desa SABULAN, persis dipinggiran Danau Toba, bersebrangan dengan Panguruan di Pulo Samosir. Suatu ketika terjadilah banjir besar yang melanda desa Banuaraja dan Sabulan, sehingga anak keturunan Si Raja Lontung terpaksa mengungsi, yaitu Sinaga dan Pandiangan ke Urat - Samosir, Nainggolan ke Nainggolan - Samosir, Simatupang dan Aritonang ke Pulau Sibandang, dan Siregar ke AEKNALAS - SIGAOL, namun Situmorang hanya sampai di Sabulan. Suatu saat Aritonang memanggil adiknya Siregar dari Aeknalas - Sigaol ke desa Aritonang di MUARA, yang kemudian menetap dan beranak pinak disitu, Selanjutnya dari Desa Aritonang lah marga siregar menyebar kesekitar Muara

Konon pada suatu masa, kemarau panjang melanda Muara yang mengakibatkan gagal panen sehingga sebagian keturunan Marga Siregar berpindah lagi menuju kearah Siborongborong - HUMBANG dan langsung membangun kampung disana yang diberi nama LOBU SIREGAR.

Kemudian untuk mencari kehidupan yang lebih baik, dari sini mereka berangkat lagi menjelajah ke arah PANGARIBUAN dan selanjutnya sebagian menuju ke desa SIBATANGKAYU. Setelah bermukim beberapa lama, dari sini mereka berangkat lagi menjelajah ke BUNGABONDAR sampai ke SIPIROK - Tapanuli Selatan.

Mendengar saudara - saudaranya berhasil diperantauan, sebagian sebagian keturunan Marga Siregar yang tadinya masih tinggal di Muara berangkat menuju TARUTUNG - SILINDUNG dan mendirikan kampung yang diberi nama Desa SIMARLALA PANSURNAPITU.

Dari desa tersebut mereka menjelajah lagi menuju PANTIS - PAHAE dan beranak pinak disana. Kemudian salah satu keturunan Marga Siregar yang dari Pantis ini menjelajah lagi dan mendirikan kampung di ONANHASANG yang masih disekitar PAHAE. Dari Onanhasang keturunannya merantau lagi dan mendirikan kampung di SIMANGUMBAN dan BULUPAYUNG.


Demikianlah perjalanan panjang perantauan Marga Siregar mulai dari BANUARAJA - SABULAN di Kecamatan Pangururan menyebar sampai kedaerah MUARA, HUMBANG, PANGURURAN, BUNGABONDAR, SIPIROK, PAHAE, SIMANGUMBAN dan BULUPAYUNG. Dalam hal ini, sekalipun ada yang berpindah lagi, namun disetiap perkampungan yang dibuat selalu ada keturunannya yang ditinggalkan disana, berkembang beranak pinak serta memiliki tanah, desa atau "HUTA". Itulah sebabnya kenapa masing - masing keturunan Marga Siregar menhatakan bahwa asal muasalnya adalah dari tempat - tempat tersebut, Namun kini sudah menjadi jelas bagi Toga Siregar dari mana asal muasal aslinya.

Toga Siregar, merupakan keturunan Raja Batak ke empat dengan garis keturunan dari Guru Tatea Bulan, Saribu Raja, dan Raja Lontung.
Toga Siregar bersaudara dengan 6 toga lainnnya dari batak yaitu Toga Sinaga , Toga Situmorang , Toga Pandiangan, Toga Nainggolan , Toga Simatupang, dan Toga Aritonang .

Toga Siregar merupakan yang termuda diantara yang lainnya.
Toga Siregar memiliki 4 keturunan laki-laki yaitu Silo, Dongoran, Silali, dan Siagian. Sedangkan marga Sormin dan Ritonga adalah marga yang berasal dari keturunan Toga Siregar, dimana, Sormin dan Baumi dari anak turunan Siregar Silo, dan Ritonga dari anak turunan Siregar Silali.

Kampung asli (Huta berada di pinggir danau toba tepatnya di kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara, dimana berdiri "Tugu Siregar" yang dibangun oleh Keturunan Marga Siregar, tetapi karena kondisi alam yang kurang subur banyak anak-anak keturunan marga siregar yang merantau ke daerah lain seperti Sipirok, Sidempuan, Bahal Batu, Kota cane dan Selanjutnya keturunan-keturunan Toga Siregar tersebar ke seluruh tanah Batak.

Sebagai catatan, ada juga Marga Babiat yang tinggal di Angkola, konon ceritanya mereka ini juga masuk horong Siregar.

komentar (0) / Read More

Senin, 25 Januari 2010 /

Aksara Batak


















komentar (0) / Read More

/

Partuturan / Sebutan Suku Batak

Banyak orang batak di perantauan, bahkan di Medan sendiri, tidak terlalu mengetahui martutur (bertutur sapa) kepada orang Batak lainnya, apalagi kepada yang lebih tua. Akibatnya, bisa2 dibilang tidak tahu adat (na so maradat do ho jappurut!)
Ada ratusan sapaan kekerabatan masyarakat Batak yang sering dan kadang kala kita dengar. Kesalahan dalam sapaan ini bagi masyarakat Batak yang memahami adat dapat mengakibatkan ketersinggungan dan komunikasi yang tidak baik kepada lawan bicara. Oleh sebab itu masyarakat Batak wajib memahaminya. Semoga berguna!

Berikut ini adalah tutur-sapa masyarakat Batak:
1. Ahu = aku, saya
2. Anak = anak laki-laki
3. Amang >damang >damang parsinuan =ayah, bapak.
4. Amang, sapaan umum menghormati kaum laki-laki.
5. Amanta >amanta raja, dalam sebuah acara pertemuan.
6. Amanguda, adik laki-laki dari ayah kita.
7. Amanguda, suami dari adik ibu kita.
8. Amangtua, abang dari ayah kita.
9. Amangtua, suami dari kakak ibu kita sendiri.
10. Amanguda/amangtua, suami dari pariban ayah kita.
11. Angkang = abang. Angkangdoli, abang yang sudah kawin.
12. Angkang boru, isteri abang. Kakak yang boru tulang kita.
13. Anggi, adik kita (lk), adik (pr) boru tulang kita.
14. Anggi doli, suami dari anggiboru. Adik (lk) sudah kawin.
15. Anggiboru, isteri adik kita yang laki-laki.
16. Amangboru, suami kakak atau adik perempuan ayah kita.
17. Amangtua/inangtua mangulaki, ompung ayah kita.
18. Ama Naposo, anak (lk) abang/adik dari hula-hula kita.
19. Angkangboru mangulaki, namboru ayah dari seorang perempuan.
20. Ampara, penyapa awal sealur marga, marhaha-maranggi.
21. Aleale, teman akrab, bisa saja berbeda marga.
22. Bao, amangbao, suami dari eda seorang ibu.
23. Bao, inangbao, isteri dari tunggane kita (abang/adik isteri).
24. Bere, semua anak (lk + prp) dari kakak atau adik prp kita.
25. Bere, semua kakak/adik dari menantu laki-laki kita.
26. Boru, semua pihak keluarga menantu lk kita / amangboru.
27. Boru, anak kandung kita (prp) bersama suaminya.
28. Borutubu, semua menantu (lk) / isteri dari satu ompung.
29. Boru Nagojong, borunamatua, keturunan namboru kakek.
30. Boru diampuan, keturunan dari namboru ayah.
31. Bonatulang, tulang dari ayah kita.
32. Bona niari, tulang dari kakek kita.
33. Bonaniari binsar, tulang dari ayah kakek kita.
34. Damang = ayah = bapak
35. Damang, sebutan kasih sayang dari anak kepada ayah mereka.
36. Damang, digunakan juga oleh ibu kepada anaknya sendiri.
37. Dainang, sebutan kasih sayang anak kepada ibu mereka.
38. Dainang, digunakan uga oleh ayah kepada anak perempuannya.
39. Daompung, baoa+boru, kakek atau nenek kita.
40. Datulang, sebutan hormat khusus kepada tulang.
41. Dahahang (baoa+boru), abang kita atau isterinya.
42. Dongan saboltok, dongan sabutuha (sebutan lokal).
43. Dongantubu, abang adik, serupa marga.
44. Dongan sahuta, kekerabatan akrab karena tinggal dalam satu huta.
45. Dongansapadan, dianggap semarga karena diikat oleh padan/janji.
46. Eda, kakak atau adik ipar antar perempuan.
47. eda, sapa awal antara sesama wanita.
48. Hahadoli, sebutan seorang isteri terhadap abang (kandung) suaminya.
49. Haha doli, abang dari urutan struktur, dapat juga tidak semarga lagi.
50. Haha = abang. No. 48 & 49, berbeda sekali artinya.
51. Hahaboru, isteri abang kita, yang dihormati.
52. Haha Ni Hela, abang dari mantu kita.
53. Haha Ni Uhum, paling tua dalam silsilah sekelompok.
54. Hula-hula, keluarga abang/adik dari isteri kita.
55. Hela, menantu (lk) kita sendiri.
56. Hela, juga terhadap suami anak abang/anak adik kita.
57. Hami, sebutan kita terhadap pihak sebelah kita sendiri.
58. Hamu, sebutan atas pihak lawan bicara.
59. Hita, menunjuk kelompok kita sendiri.
60. Halak, menunjuk kepada kelompok orang lain.
61. Ho, kau, terhadap satu orang tertentu, tutur bawah kita.
62. Halak i, dihormati karena pantangan, terhadap bao, parumaen.
63. Ibebere, keluarga dari suami bere kita yang perempuan.
64. Ito, iboto, kakak atau adik perempuan kita, serupa marga.
65. Ito, tutur sapa awal dari lk terhadap prp atau sebaliknya.
66. Ito, panggilan kita kepada anak gadis dari namboru.
67. Iba, = ahu, saya.
68. Ibana, dia, penunjuk kepada seseorang yang sebaya kita.
69. Inang=dainang, ibu. Juga sebutan kasih kepada puteri kita.
70. Inang(simatua)=ibu mertua.
71. Inangbao, isteri dari hula-hula atau tunggane kita.
72. Inanta, sebutan penghormatan bagi wanita, sudah kawin.
73. Inanta soripada, kaum ibu yang lebih dihormati dalam acara.
74. Inanguda, isteri dari adik ayah. Ada juga inanguda marpariban.
75. Inangtua, isteri dari abang ayah. Juga inangtua marpariban.
76. Inangbaju, semua adik prp dari ibu kita, belum kawin.
77. Inangnaposo, isteri dari paraman/amangnaposo kita.
78. Indik-indik, cucu dari cucu prp kita. Sudah amat jarang ada.
79. Jolma, jolmana, = isterinya. Jolmangku = isteriku.
80. Lae, tutur sapa anak laki-laki tulang dengan kita (lk).
81. Lae, tutur sapa awal perkenalan antara dua laki-laki.
82. Lae, suami dari kakak atau adik kita sendiri (lk)
83. Lae, anak laki-laki dari namboru kita (lk)
84. Maen, anak-gadis dari hula-hula kita.
85. Marsada inangboru, abang adik karena ibu kita kakak-adik.
86. Namboru, kakak atau adik ayah kita. Sudah kawin atau belum.
87. Nantulang, isteri dari tulang kita.
88. Nasida, penunjuk seseorang yang dihormati. Atau = mereka.
89. Nasida, halk-nasida, amat diormati karena berpantangan.
90. Natoras, orangtua kandung. Angkola = natobang.
91. Natua-tua, orangtua yang dihormati. Misalnya: amanta natua-tua i.
92. Nini, anak dari cucu laki-laki.
93. Nono, anak dari cucu perempuan kita.
94. Ondok-ondok, cucu dari cucu laki-laki kita. Sudah jarang.
95. Ompung, ompungdoli, ompung suhut, ayah dari bapak kita.
96. Ompungbao, daompung, orangtua dari ibu kandung kita.
97. Ompungboru, ibu dari ayah kita.
98. Pahompu, cucu. anak - anak dari semua anak kita.
99. Pinaribot, sebutan penghormatan kepada wanita dalam acara.
100.Paramaan, anak (lk) dari hula-hula kita.
101.Parboruon, semua kelompok namboru atau menantu (lk) kita.
102.Pargellengon -idem- tetapi lebih meluas.
103.Parrajaon, semua kelompok dari hula-hula dan tulang kita.
104.Pariban, abang-adik karena isteri juga kakak-beradik.
105.Pariban, semua anak prp dari pihak tulang kita.
106.Pariban, anak prp yang sudah kawin, dari pariban mertua prp.
107.Parumaen = mantu prp. isteri anak kita.
108.Pamarai, abang atau adik dari suhut utama, orang kedua.
109.Rorobot, tulangrorobot, tulang isteri (bukan narobot).
110.Sinonduk = suami. Parsonduk bolon = isteri, pardijabu.
111.Simatua doli dan simatua boru = mertua lk dan prp.
112.Simolohon = simandokhon = iboto, kakak atau adik lk.
113.Suhut, pemilik hajatan. Paidua ni suhut, orang kedua.
114.Tulang, abang atau adik dari ibu kita.
115.Tulang/nantulang, mertua dari adik kita yang laki-laki.
116.Tulang naposo = paraman yang sudah kawin.
117.Tulang Ni Hela, tulang dari pengantin laki-laki.
118.Tulang/nantulang mangulaki, panggilan cucu kepada mertua.
119.Tunggane, semua abang dan adik (lk) dari isteri kita.
120.Tunggane, semua anak laki-laki dari tulang kita.
121.Tunggane doli, amang siadopan, amanta jabunami = suami
122.Tunggane boru, inang siadopan, pardijabunami, = isteri.
123.Tunggane huta, raja dalam sebuah huta, kelompok pendiri huta.
124.Tuan doli = suami.
125.Tuan boru = isteri

komentar (0) / Read More

Jumat, 22 Januari 2010 /

komentar (0) / Read More

/

Batak Toba






















Tapanuli Utara dan Tengah)

Pulau Samosir

Samosir sangat menarik karena terletak ditengah danau dan hanya satu-satunya yang ada dari seluruh dunia.Mempunyai luas permukaan sekitar 627 kilometer persegi. Samosir dapat ditempatkan sebagai pusat dari kebudayaan batak.


Terdiri dari beberapa desa yang mempunya kepentingan sejarah seperti monumen pemakaman raja-raja dan rumah-rumah tradisi batak.

Pulau Samosir dapat dikunjungi melalui pelayanan kapal penumpang atau ferry dari Prapat dengan perjalanan sekitar 45 menit.



Tomok

Desa Tomok adalah pintu utama untuk masuk ke Samosir. Terletak sekitar 9 km dari Prapat. Di Tomok kita dapat mengagumi rumah-rumah tradisi adat batak tua dengan ornamen-ornamen khas yang terbuat dari ukiran balok dan atap rumah yang menyerupai tanduk banteng. Tidak jauh dari desa Tomok terletak pemakaman Raja Sidabutar. Raja Sidabutar berkuasa pada masa sekitar 200 tahun yang lalu. Disekitar desa tersebut masih banyak diketemui tugu-tugu pemakaman yang terbuat dari batu-batu dari jaman pra-sejarah.



Pulau Tao

Adalah pulau kecil yang ada di danau Toba, terletak sekitar 30 km dari Prapat. Pulau Tao hanya dapat dikunjungi dengan kapal motor. Pulau ini sangat cocok sebagai tempat bersantai atau berbulan madu. Karena letaknya di daerah yang tenang dari Danau Toba dapat digunakan sebagai tempat peristirahatan yang jauh dari keramaian dan kesibukan kehidupan kota.



Ambarita

Terletak sekitar 13 km dari Prapat, 1 km dari desa Tuktuk adalah tempat yang ramah dengan bunga-bunga dan rumah-rumah tradisi tua batak. Di desa ini dapat kita temui meja-meja dan kursi-kursi batu yang pada jaman itu dipergunakan sebagai tempat perkumpulan oleh raja-raja Sialagan. Dalam perkumpulan itu dibicarakan hal-hal seperti hukuman terhadap para pelaku kejahatan, penentuan waktu terbaik untuk panen padi, penetapan tanggal pernikahan dan masalah-masalah penting lainnya.



Pangururan

Pangururan terletak di sebelah utara pulau Samosir, terpisah dari daratan oleh sungai kecil. Dari Pangururan kita dapat mengunjungi Brastagi dengan bus penumpang. Dalam 30 menit kita bisa sampai di Simanindo, bisa juga memakai kapal penumpang. Pangururan sangat terkenal dengan sumber mata air panas yang sanagt ramai dikunjungi oleh wisatawan setempat.



Tele

Pemandangan danau Toba dilihat dari Tele adalah sangat indah sekali. Dari Tele ke Pangururan berjarak 22 km. Disini terdapat menara dimana kita bisa menikmati pemandangan indah dari danau Toba, pulau Samosir dan Dolok Pusut Buhit. Pusut Buhit adalah desa yang lansung berbatasan dengan Tele berjarak 12 km. Di desa Tele ini juga terdapat sumber mata air panas.






Bakkara

Di daerah ini terdapat berbagai bangunan tua dari jaman Raja Sisingamangaraja XII. Termasuk istana dan berbagai peralatannya yang dipergunakan beratus-ratus tahun yang lalu.



Tuktuk

Tuktuk adalah tempat yang cocok untu beristirahat daan bersantai. Terletak pada bagian Samosir yang tenang dan nyaman langsung berbatasan dengan danau.






Simanindo

Is located on the northern side of the island, about 16 km from Ambarita. The past King Sidauruk had his long house in this village. It is now one of the more outstanding Batak houses on the island. The long house now serves as a museum for tourists.



It is decorated with wood carving and semi. sculptured figures, among others the Gajah Dompak god, who was meant to frighten away ghosts or evil spirits. This god was worshipped by the Toba Bataks hundreds of years ago.

The Tor-Tor dance is often performed at Simanindo on special occations or on request for a fee.

Visitors can watch the Tor-Tor dance and the Sigale- gale wooden puppet dance performed by the local villagers in front of the long-house to the accompaniment of musicians playing their traditional instruments.
Top



Balige

Balige is situated on the south eastern shore of Lake Toba, opposite the tip of Samosir lsland. It has a beautiful sandy beach. The town is often host to some annual Batak festivities, namely the'Pesta Horas' (Horas Party) and 'Pesta Pantai Lumban Silintong (Lumban Silintong Beach Party). The activities include a fishing competition, traditional sports such as Marjalengkat, Marhonong, and others. Two museums are found here: the Balige Museum and the Sisingamangaraja XII Museum. The Sisingamangaraja Museum shows a collection of objects and items used by this past king. His tomb can be seen at Soposurung, Tanah Batak. There is also a monument here in honour of the late General D.I. Panjaitan, a National Fighter who was killed in the communist coup of 1965. Adian Nalambok with its Gur-gur Resthouse is a place offering panoramic views on the way to the town of Tarutung in Tanah Batak. It is only 5 km from Balige. Balige is located about 65 km from Parapat. Balige is noted for its traditional Batak cloths. Not far from Balige there is a village called 'Laguboti' which is known for its woodcarvings and statues.

Top


Sigumpar

Situated 14 km from Balige and Porsea. You can visit the grave of DR. I.L. Nommensen here. In front of the grave is the Nommensen Church. Nommensen was a German missionary of the 19th century, the only one of the western missionaries who was successful in spreading the Christian faith among the Batak. Sigumpar is a beautiful village and visitors who enjoy natural beauty will be satisfied here.



Meester houtsnijder Ompu Pandai Mauli Siagian op de weg dichtbij Huta
Sigumpar.

Top



Sibolga

Sibolga is the capital of Central Tapanuli. lt is known for its lovely beach, called 'Tapian Nauli' which means 'beautiful beach' and the clear waters. It is 173 km away from Parapat on the west coast of Sumatra facing the lndian Ocean.


Several small islands with white sandy beaches lie opposite Sibolga. One of the interesting places at Sibolga is Pandan Beach.

Top


Pandan Beach.

Sebenarnya itu adalah perkampungan para penangkap ikan yg cara hidupnya masih sesuai kebiasaankebiasaan lama.Tetapi, disana bisa dinikmati ikan pang-gang segar yg beberapa saat lalu baru ditangkap di laut. Pandan Beach terletak 11km dari Sibolga ke arah Padang Sidempuan.

Top



Pulau Mursala.

Kecamatan Sibolga ini terletak di Lautan Hindia. Terkenal dengan rekreasi laut. Banyak jenis ikan, fauna serta flora laut bisa ditemukan disana. Tempatpempat lain yg menarik perhatian antar lain ialah air terjun,pantaipantai berpasir putih dan tempattempat perburuan.Pulau ini bisa dicapai dengan kapal.
Top


Barus.

Kota ini terletak 65 km dari Sibolga- kota tertua di pantai barat Sumatra .Dulu kota ini adalah pintu gerbang bagi Sumatra bahagian barat. Disini terdapat banyak kuburankuburan tua,bendabenda kuno peninggalan dari keturunanketururnan rajaraja yg dahulu disana berkuasa. Pantaipantai pasir putih sangat ideal untuk tempat berjemur,berenang sedang gelombanggelombang tinggi Lautan Hindia mengajak kita untuk bersurfing.





Bonan Dolok.

Kota kecil ini terletak 850 m diatas permukaan laut sejauh 9 km dari Sibolga. Dari sini pemandangan indah jatuh ke teluk Tapian Nauli dan laut sekitarnya. Sepanjang jalanan ke tempat ini terdapat banyak wismawisma, dimana sejenak bisa beristirahat melepaskan rasa letih.
Top



Rura Silindung

komentar (0) / Read More

/

Tentang kematian Batak

Sari Matua, Saur Matua, Mauli Bulung di Tengah Masyarakat Batak

Berbicara tentang Sari Matua, Saur Matua dan Mauli Bulung adalah berbicara tentangkematian seseoang dalam konteks adat Batak. Adalah aksioma, semua orang harus mati, dan hal itu dibenarkan oleh semua agama. Bukankah pada Kidung Jemaat 334 disebut: “Tiap orang harus mati, bagai rumput yang kering. Makhluk hidup harus busuk, agar lahir yang baru. Tubuh ini akan musnah, agar hidup disembuhkan. di akhirat bangkitlah, masuk sorga yang megah.”
Selain yang disebutkan diatas, masih ada jenis kematian lain seperti “Martilaha” (anak yang belum berumah tangga meninggal dunia), “Mate Mangkar” (yang meninggal suami atau isteri, tetapi belum berketurunan), “Matipul Ulu” (suami atau isteri meninggal dunia dengan anak yang masih kecil-kecil), “Matompas Tataring” (isteri meninggal lebih dahulu juga meninggalkan anak yang masih kecil). Sari matua Tokoh adat yang dihubungi Ev H Simanjuntak, BMT Pardede, Constan Pardede, RPS Janter Aruan SH membuat defenisi : “Sari Matua adalah seseorang yang meninggal dunia apakah suami atau isteri yang sudah bercucu baik dari anak laki-laki atau putri atau keduanya, tetapi masih ada di antara anak-anaknya yang belum kawin (hot ripe).

Mengacu kepada defenisi diatas, seseorang tidak bisa dinobatkan (dialihkan statusnya dari Sari Matua ke Saur Matua. Namun dalam prakteknya, ketika hasuhuton “marpangidoan” (bermohon) kepada dongan sahuta, tulang, hula-hula dan semua yang berhadir pada acara ria raja atau pangarapotan, agar yang meninggal Sari Matua itu ditolopi (disetujui) menjadi Saur Matua.
Sering hasuhuton beralasan, “benar masih ada anak kami yang belum hot ripe (kawin), tetapi ditinjau dari segi usia sudah sepantasnya berumah tangga, apalagi anak-anak kami ini sudah bekerja dan sebenarnya, anak kami inilah yang membelanjai orang tua kami yang tengah terbaring di rumah duka. “Semoga dengan acara adat ini mereka secepatnya menemukan jodoh (asa tumibu dapotan sirongkap ni tondi, manghirap sian nadao, manjou sian najonok). Status Sari Matua dinaikkan setingkat menjadi Saur Matua seperti ini ditemukan pada beberapa acara adat.
Tokoh adat diatas berkomentar, permintaan hasuhuton itu sudah memplesetkan nilai adat yang diciptakan leluhur. Pengertian Sari Matua, orang itu meninggal, sebelum tugasnya sebagai orang tua belum tuntas yakni mengawinkan anak-anaknya. Tidak diukur dari segi umur, pangkat, jabatan dan kekayaan.
Mereka memprediksi, terjadinya peralihan status, didorong oleh umpasa yang disalah tafsirkan yakni: “Pitu lombu jonggi, marhulang-hulanghon hotang, raja pinaraja-raja, matua husuhuton do pandapotan.” (semua tergantung suhut). Umpasa ini sasarannya adalah untuk “sibuaton” (parjuhutna-boan), karena bisa saja permintaan hadirin parjuhutna diusulkan lombu sitio-tio atau horbo, tetapi karena kurang mampu, hasuhuton menyembelih simarmiak-miak (B2), atau sebaliknya jika mampu, simarmiak-miak marhuling-hulinghon lombu, simarmiak-miak marhuling-hulinghon horbo. Faktor lain ujar mereka, adanya “ambisi” pihak keluarga mengejar cita-cita orang Batak yakni hamoraon, hagabeon, hasangapon. Selanjutnya, dongan sahuta, terkesan “tanggap mida bohi”, karena mungkin pihak hasuhuton orang “terpandang”.
Sebenarnya, untuk meredam “ambisi” hasuhuton, senjata pamungkas berada ditangan Dongan Sahuta. Benar ada umpasa yang mengatakan : “Tinallik landurung bontar gotana, sisada sitaonon dohot las ni roha do namardongan sahuta, nang pe asing-asing margana.” Tetapi bukankah ada umpasa yang paling mengena: “Tinallik bulu duri, sajongkal dua jari, dongan sahuta do raja panuturi dohot pengajari.” Mereka harus menjelaskan dampak negatif dari peralihan status Sari Matua ke Saur Matua berkenaan dengan anak-anak almarhum yang belum hot ripe. Artinya, jika kelak dikemudian hari, anak tersebut resmi kawin, karena dulu sudah dianggap kawin, tentu dongan sahuta tidak ikut campur tangan dalam seluruh kegiatan/proses perkawinan. Barangkali, bila hal itu diutarakan, mungkin pihak hasuhuton akan berpikir dua kali, sekaligus hal ini mengembalikan citra adat leluhur.
Selanjutnya, ada pula berstatus “Mate Mangkar” berubah menjadi Sari Matua, karena diantara anaknya sudah ada yang berumah tangga namun belum dikaruniai cucu. Hasuhuton beralasan, parumaen (menantu) sudah mengandung (“manggora pamuro”). Hebatnya lagi, parjuhutna (boan) sigagat duhut (bukan simarmiak-miak merhuling-hulinghon horbo).
Saya kurang setuju menerima adat yang demikian”, ujar Ev H Simanjuntak. Lahir dulu, baru kita sebut Si Unsok atau Si Butet, kalau orang yang meninggal tadi dari Mate Mangkar menjadi Sari Matua, lalu ompu si apa kita sebut? Ompu Sipaimaon?”, katanya memprotes. Kalau hanya mengharapkan manjalo tangiang menjadi partangiangan, kenapa kita sungkan menerima apa yang diberikan Tuhan kepada kita, sambungnya. Soal boan sigagat duhut, menurut Simanjuntak, hal itu sudah melampaui ambang batas normal adat Batak. Seharusnya simarmiak-miak, karena kerbau adalah ternak yang paling tinggi dalam adat Batak, tegasnya.



Ulos tujung dan sampe tua


Ulos tujung, adalah ulos yang ditujungkan (ditaruh diatas kepala) kepada mereka yang menghabaluhon (suami atau isteri yang ditinggalkan almarhum). Jika yang meninggal adalah suami, maka penerima tujung adalah isteri yang diberikan hula-hulanya. Sebaliknya jika yang meninggal adalah isteri, penerima tujung adalah suami yang diberikan tulangnya.


Tujung diberikan kepada perempuan balu atau pria duda karena “mate mangkar” atau Sari Matua, sebagai simbol duka cita dan jenis ulos itu adalah sibolang.
Dahulu, tujung itu tetap dipakai kemana saja pergi selama hari berkabung yang biasanya seminggu dan sesudahnya baru dilaksanakan “ungkap tujung” (melepas ulos dari kepala). Tetapi sekarang hal itu sudah tidak ada lagi, sebab tujung tersebut langsung diungkap (dibuka) oleh tulang ataupun hula-hula sepulang dari kuburan (udean). Secara ratio, yang terakhir ini lebih tepat, sebab kedukaan itu akan lebih cepat sirna, dan suami atau isteri yang ditinggal almarhum dalam waktu relatif singkat sudah dapat kembali beraktifitas mencari nafkah. Jika tujung masih melekat di kepala, kemungkinan yang bersangkutan larut dalam duka (margudompong) yang eksesnya bisa negatif yakni semakin jauh dari Tuhan atau pesimis bahkan apatis.
Ulos Sampe Tua, adalah ulos yang diberikan kepada suami atau isteri almarhum yang sudah Saur Matua, tetapi tidak ditujungkan diatas kepala, melainkan diuloskan ke bahu oleh pihak hula-hula ataupun tulang. Jenis ulos dimaksud juga bernama Sibolang. Ulos Sampe Tua bermakna Sampe (sampailah) tua (ketuaan-berumur panjang dan diberkati Tuhan).


Akhir-akhir ini pada acara adat Sari Matua, sering terlihat ulos yang seharusnya adalah tujung, berobah menjadi ulos sampe tua. Alasannya cukup sederhana, karena suami atau isteri yang ditinggal sudah kurang pantas menerima tujung, karena faktor usia dan agar keluarga yang ditinggalkan beroleh tua.
Konsekwensi penerima ulos Sampe Tua adalah suami ataupun isteri tidak boleh kawin lagi. Seandainya pesan yang tersirat pada ulos Sampe Tua ini dilanggar, kawin lagi dan punya anak kecil lalu meninggal, ulos apa pula namanya. Tokoh adat Ev H Simanjuntak, BMT Pardede, Raja Partahi Sumurung Janter Aruan SH dan Constant Pardede berpendapat sebaiknya ulos yang diberikan adalah tujung, sebab kita tidak tahu apa yang terjadi kedepan. Toh tujung itu langsung dibuka sepulang dari kuburan, ujar mereka.




SAUR MATUA


Seseorang disebut Saur Matua, ketika meninggal dunia dalam posisi “Titir maranak, titir marboru, marpahompu sian anak, marpahompu sian boru”. Tetapi sebagai umat beragama, hagabeon seperti diuraikan diatas, belum tentu dimiliki seseorang. Artinya seseorang juga berstatus saur matua seandainya anaknya hanya laki-laki atau hanya perempuan, namun sudah semuanya hot ripe dan punya cucu.
Khusus tentang parjuhutna, Ev H Simanjuntak bersama rekannya senada mengatakan, yang cocok kepada ina adalah lombu sitio-tio atau kalau harus horbo, namanya diperhalus dengan sebutan “lombu sitio-tio marhuling-hulinghon horbo”. Sebab kelak jika bapak yang meninggal, “boan”-nya adalah horbo (sigagat duhut).
Diminta tanggapannya apakah keharusan boan dari mereka yang Saur Matua lombu sitio-tio atau sigagat duhut, tokoh adat ini menjelaskan, hal itu relatif tergantung kemampuan hasuhuton, bisa saja simarmiak-miak. Disinilah pemakaian umpasa “Pitu lombu jonggi, marhulang-hulanghon hotang, raja pinaraja-raja, matua hasuhuton do pandapotan”. Kalangan hula-hula, terutama dongan sahuta harus memaklumi kondisi dari hasuhuton agar benar-benar “tinallik landorung bontar gotana, sada sitaonon do na mardongan sahuta nang pe pulik-pulik margana”. Jangan terjadi seperti cerita di Toba, akibat termakan adat akhirnya mereka lari malam (bungkas) kata mereka.
Masih seputar Saur Matua khususnya kepada kaum bapak, predikat isteri tercinta, kawin lagi dan punya keturunan. Kelak jika bapak tersebut meninggal dunia, lalu anak yang ditinggalkan berstatus lajang, sesuai dengan defenisi yang dikemukakan diawal tulisan ini, sang bapak menjadi Sari Matua.



Mauli Bulung


Mauli Bulung, adalah seseorang yang meninggal dunia dalam posisi titir maranak, titir marboru, marpahompu sian anak, marpahompu sian boru sahat tu namar-nini, sahat tu namar-nono dan kemungkinan ke “marondok-ondok” yang selama hayatnya, tak seorangpun dari antara keturunannya yang meninggal dunia (manjoloi) (Seseorang yang beranak pinak, bercucu, bercicit mungkin hingga ke buyut).
Dapat diprediksi, umur yang Mauli Bulung sudah sangat panjang, barangkali 90 tahun keatas, ditinjau dari segi generasi. Mereka yang memperoleh predikat mauli bulung sekarang ini sangat langka.
Dalam tradisi adat Batak, mayat orang yang sudah Mauli Bulung di peti mayat dibaringkan lurus dengan kedua tangan sejajar dengan badan (tidak dilipat).

Kematian seseorang dengan status mauli bulung, menurut adat Batak adalah kebahagiaan tersendiri bagi keturunannya. Tidak ada lagi isak tangis. Mereka boleh bersyukur dan bersuka cita, berpesta tetapi bukan hura-hura, memukul godang ogung sabangunan, musik tiup, menari, sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan yang Maha Kasih lagi Penyayang.

komentar (0) / Read More

/

Mandailing Tapanuli Selatan

























Mandailing - Tapanuli Selatan

Daerah Tapanuli Selatan adalah daerah bagian paling selatan Sumatera Utara, dan berdekatan dengan propinsi Sumatera Barat dan Riau. Daerah ini didiami sekitar 500.00 Batak Mandailing. Sama seperti dengan kelompok batak yang lainnya mereka hidup di desa yang besar yang terdiri antara 100 sampai 200 perumahan. Desa-desa ini berpencar sampai pusat utara bagian Sumatera. Pasar daerah dijadikan pusat bagi daerah yang tinggi letaknya dan pasar ini juga melayani daerah-daerah pegunungan.

Penduduk batak tinggal di rumah bergaya Malaysia, yang terbagi-bagi beberapa kamar dan tertutup dengan beratap seng dan juga beratap ijuk.

Sebagian besar dari penduduk Batak Mandailing adalah petani. Padi tumbuh di seluruh daerah Sumatera baik di ladang yang kering maupun di ladang yang basah. Hasil tanam-tanaman yang lain juga merupakan hasil tambahan bagi daerah ini. Hasil tradisional hutan seperti karet hutan di tuai dan dikumpulkan.

Keluarga petani membagi-bagi tugas mereka yang terdiri dari pekerjaan rumah dan pekerjaan di ladang. Menanam dan menuai di ladang yang luas biasanya di lakukan oleh kelompok pekerja yang banyak jumlahnya. Daerah yang makmur menyewa penduduk yang kurang mampu untuk menanam dan menuai di ladang mereka. Selain bekerja dibagian pertanian banyak dari penduduk batak bekerja di bagian transportasi atau berjualan pakaian di bermacam-macam pasar di pulau tersebut.


Perkawinan antara dua manusia yang berhubungan keluarga sangat sempurna dilingkungan adat daerah ini. Di pesta perkawinan kedua belah pihak dari pengantin saling bertukar hadiah yang merka sediakan dan pilih dengan teliti. Biasanya pengantin tersebut tinggal dirumah atau tinggal berdekatan dengan pihak keluarga laki-laki selama beberapa tahun. Kadang-kadang mereka mengatur kegiatan rumah-tangga bersama-sama.

Semua anak-anak diharuskan ke sekolah, baik di sekolah umum maupun sekolah muslim. Systim sekolah nasional berprinsip dari patriotisme Indonesia dan nilai-nilai zaman modern.

Sama seperti sebagian penduduk Asia Tenggara, penduduk batak sangan terikat dan percaya dengan susunan dari bawah hingga atas yang berdasarkan dari latar belakang kemasyarakatan. Orang-orang sangat hormat kepada pendiri silsilah dan jabatan. Daerah batak mempunyai majelis sendiri, pemimpin yang dipilih berdasarkan dari warisan nenek moyang mereka. Pemimpin berkewajiban memimpin organisasi yang menyusun dan memimpin acara-acara tradisional dan mendirikan hukum-hukum yang berhubungan dengan warisan, pewarisan dan perkawinan.

Padang Sidempuan adalah ibukota dari Tapanuli Selatan yang juga disebut sebagai kota salak. Kota ini terletak di daerah rute turis dari Sumatera Barat sampai Sumatera Utara yang mengharuskan setap bis turis melewati Padang Sidempuan. Karena kota tersebut sangat indah dan menarik banyak turis-turis baik turis lokal maupuan turis asing berhenti untuk menikmati pemandangan yang indah tersebut. Tempat-tempat yang sangat menarik untuk dilihat adalah Candi Portibi, Dolok Simagomago, Pakantan, Husar Tolang, Sibanggor dan Adiun Lungun Roha. Sipirok adalah kota kecil yang sudah diperbaiki sedikit. Dari sini pemandangan juga indah, daerah ini sangat terkenal dengan kerajinan keramik dan baju-baju tradisional batak.

komentar (0) / Read More

/

GORGA / Rumah Adat Batak






Gorga Batak adalah ukiran atau pahatan tradisional yang biasanya terdapat di dinding rumah bahagian luar dan bagian depan dari rumah-rumah adat Batak. Gorga ada dekorasi atau hiasan yang dibuat dengan cara memahat kayu (papan) dan kemudian mencatnya dengan tiga (3) macam warna yaitu : merah-hitam-putih. Warna yang tiga macam ini disebut tiga bolit.

Bahan-bahan untuk Gorga ini biasanya kayu lunak yaitu yang mudah dikorek/dipahat. Biasanya nenek-nenek orang Batak memilih kayu ungil atau ada juga orang menyebutnya kayu ingul. Kayu Ungil ini mempunyai sifat tertentu yaitu antara lain tahan terhadap sinar matahari langsung, begitu juga terhadap terpaan air hujan, yang berarti tidak cepat rusak/lapuk akibat kena sengatan terik matahari dan terpaan air hujan. Kayu Ungil ini juga biasa dipakai untuk pembuatan bahan-bahan kapal/ perahu di Danau Toba.

Bahan-bahan Cat (Pewarna)

Pada zaman dahulu Nenek orang Batak Toba menciptakan catnya sendiri secara alamiah misalnya :
Cat Warna Merah diambil dari batu hula, sejenis batu alam yang berwarna merah yang tidak dapat ditemukan disemua daerah. Cara untuk mencarinya pun mempunyai keahlian khusus. Batu inilah ditumbuk menjadi halus seperti tepung dan dicampur dengan sedikit air, lalu dioleskan ke ukiran itu.
Cat Warna Putih diambil dari tanah yang berwarna Putih, tanah yang halus dan lunak dalam bahasa Batak disebut Tano Buro. Tano Buro ini digiling sampai halus serta dicampur dengan sedikit air, sehingga tampak seperti cat tembok pada masa kini.
Cat Warna Hitam diperbuat dari sejenis tumbuh-tumbuhan yang ditumbuk sampai halus serta dicampur dengan abu periuk atau kuali. Abu itu dikikis dari periuk atau belanga dan dimasukkan ke daun-daunan yang ditumbuk tadi, kemudian digongseng terus menerus sampai menghasilkan seperti cat tembok hitam pada zaman sekarang.

Jenis/ Macamnya Gorga Batak

Menurut cara pengerjaannya ada 2 jenis :

1. Gorga Uhir yaitu Gorga yang dipahatkan dengan memakai alat pahat dan setelah siap dipahat baru diwarnai
2. Gorga Dais yaitu Gorga yang dilukiskan dengan cat warna tiga bolit. Gorga dais ini merupakan pelengkap pada rumah adat Batak Toba. Yang terdapat pada bahagian samping rumah, dan dibahagian dalam.

Menurut bentuknya
Dilihat dari ornament dan gambar-gambarnya dapat pula Gorga itu mempunyai nama-namanya tersendiri, antara lain ;

• Gorga Ipon-Ipon, Terdapat dibahagian tepi dari Gorga; ipon-ipon dalam Bahasa Indonesia adalah Gigi. Manusia tanpa gigi sangat kurang menarik, begitulah ukiran Batak, tanpa adanya ipon-ipon sangat kurang keindahan dan keharmonisannya. Ipon-ipon ada beraneka ragam, tergantung dari kemampuan para pengukir untuk menciptakannya. Biasanya Gorga ipon-ipon ini lebarnya antara dua sampai tiga sentimeter dipinggir papan dengan kata lain sebagai hiasan tepi yang cukup menarik.

• Gorga Sitompi, Sitompi berasal dari kata tompi, salah satu perkakas Petani yang disangkutkan dileher kerbau pada waktu membajak sawah. Gorga Sitompi termasuk jenis yang indah di dalam kumpulan Gorga Batak. Disamping keindahannya, kemungkinan sipemilik rumah sengaja memesankannya kepada tukang Uhir (Pande) mengingat akan jasa alat tersebut (Tompi) itu kepada kerbau dan kepada manusia.

• Gorga Simataniari (Matahari), Gorga yang menggambarkan matahari, terdapat disudut kiri dan kanan rumah. Gorga ini diperbuat tukang ukir (Pande) mengingat jasa matahari yang menerangi dunia ini, karena matahari juga termasuk sumber segala kehidupan, tanpa matahari takkan ada yang dapat hidup.

• Gorga Desa Naualu (Delapan Penjuru Mata Angin), Gorga ini menggambarkan gambar mata angin yang ditambah hiasan-hiasannya. Orang Batak dahulu sudah mengetahui/kenal dengan mata angin. Mata angin ini pun sudah mempunyai kaitan-kaitan erat dengan aktivitas-aktivitas ritual ataupun digunakan di dalam pembuatan horoscope seseorang/sekeluarga. Sebagai pencerminan perasaan akan pentingnya mata angina pada suku Batak maka diperbuatlah dan diwujudkan dalam bentuk Gorga.

• Gorga Si Marogung-ogung (Gong), Pada zaman dahulu Ogung (gong) merupakan sesuatu benda yang sangat berharga. Ogung tidak ada dibuat di dalam negeri, kabarnya Ogung didatangkan dari India. Sedangkan pemakaiannya sangat diperlukan pada pesta-pesta adat dan bahkan kepada pemakaian pada upacara-upacara ritual, seperti untuk mengadakan Gondang Malim (Upacara kesucian). Dengan memiliki seperangkat Ogung pertanda bahwa keluarga tersebut merupakan keluarga terpandang. Sebagai kenangan akan kebesaran dan nilai Ogung itu sebagai gambaran/ keadaan pemilik rumah maka dibuatlah Gorga Marogung-ogung.

• Gorga Singa Singa, Dengan mendengar ataupun membaca perkataan Singa maka akan terlintas dalam hati dan pikiran kita akan perkataan: Raja Hutan, kuat, jago, kokoh, mampu, berwibawa. Tidak semua orang dapat mendirikan rumah Gorga disebabkan oleh berbagai faktor termasuk factor social ekonomi dan lain-lain. Orang yang mampu mendirikan rumah Gorga Batak jelaslah orang yang mampu dan berwibawa di kampungnya. Itulah sebabnya Gorga Singa dicantumkan di dalam kumpulan Gorga Batak

• Gorga Jorgom, Ada juga orang menyebutnya Gorga Jorgom atau ada pula menyebutnya Gorga Ulu Singa. Biasa ditempatkan di atas pintu masuk ke rumah, bentuknya mirip binatang dan manusia.

• Gorga Boras Pati dan Adop Adop (Tetek), Boras Pati sejenis mahluk yang menyerupai kadal atau cicak. Boras Pati jarang kelihatan atau menampakkan diri, biasanya kalau Boras Pati sering nampak, itu menandakan tanam-tanaman menjadi subur dan panen berhasil baik yang menuju kekayaan (hamoraon). Gorga Boras Pati dikombinasikan dengan tetek (susu, tarus). Bagi orang Batak pandangan terhadap susu (tetek) mempunyai arti khusus dimana tetek yang besar dan deras airnya pertanda anaknya sehat dan banyak atau punya keturunan banyak (gabe). Jadi kombinasi Boras Pati susu (tetek) adalah perlambang Hagabeon, Hamoraon sebagai idaman orang Batak.

• Gorga Ulu Paung, Ulu Paung terdapat di puncak rumah Gorga Batak. Tanpa Ulu Paung rumah Gorga Batak menjadi kurang gagah. Pada zaman dahulu Ulu Paung dibekali (isi) dengan kekuatan metafisik bersifat gaib. Disamping sebagai memperindah rumah, Ulu Paung juga berfungsi untuk melawan begu ladang (setan) yang datang dari luar kampung. Zaman dahulu orang Batak sering mendapat serangan kekuatan hitam dari luar rumah untuk membuat perselisihan di dalam rumah (keluarga) sehingga tidak akur antara suami dan isteri. Atau membuat penghuni rumah susah tidur atau rasa takut juga sakit fisik dan berbagai macam ketidak harmonisan.

Masih banyak lagi gambar-gambar yang terdapat pada dinding atau bahagian muka dari rumah Batak yang sangat erat hubungannya dengan sejarah kepribadian si pemilik rumah. Ada juga gambar lembu jantan, pohon cemara, orang sedang menunggang kuda, orang sedang mengikat kerbau. Gambar Manuk-Manuk (burung) dan hiasan burung Patia Raja perlambang ilmu pengetahuan dan lain-lain.

Apakah Jaha Jaha Gorga Itu ?

Orang sering bertanya dan mempersoalkan tentang manjaha (membaca) Gorga Batak yang sering membingungkan banyak orang. Membaca Gorga Batak tidak seperti membaca huruf-huruf Latin atau huruf Arab atau huruf Batak, huruf Kawi dan yang lainnya. Membaca Gorga Batak yakni mengartikan gambar-gambar dan warna yang terdapat di Rumah Gorga itu serta menghubungkannya kepada Sejarah dari pada si pemilik rumah tersebut.

Sebagai contoh : Disebuah rumah Gorga Batak terdapat gambar Ogung (gong), sedangkan pemilik rumah atau nenek serta Bapaknya belum pernah mengadakan pesta dengan memukul Ogung/Gendang, maka Gorga rumahnya tidak sesuai dengan keadaan pribadi pemilik rumah, maka orang yang membaca Gorga rumah itu mengatakan Gorga rumah tersebut tidak cocok.

Contoh lain : Si A orang yang baru berkembang ekonominya disuatu kampung, dan membangun satu rumah Gorga Batak. Si A adalah anak tunggal dan Bapaknya juga anak tunggal. Akan tetapi cat rumah Gorga itu banyak yang berwarna merah dan keras, dan lagi pula singa-singanya (Mata Ulu Paungnya) membelalak dan menantang, maka Gorga rumahnya itu tidak cocok karena si A tersebut orang yang ekonominya baru tumbuh (namamora mamungka). Maka orang yang membaca Gorga rumahnya menyebutkan untuk si A. Sebaiknya si A lebih banyak memakai warna si Lintom (Hitam) dan Ulu Paungnya agak senyum, Ulu Paung terdapat dipuncak rumah.

RUMA (RUMAH)

Jadi sudah kita ketahui bahwa gorga (ukiran) Batak itu membuat Rumah Batak itu sangat indah anggun dan sangat senang perasaan melihatnya, baik orang Barat/Eropah sangat senang perasaannya melihat bentuk rumah Batak itu serta hiasan hiasannya.
Bagaimanakah bahagian dalamnya? Apakah seindah dan seanggun yang kita lihat dari luarnya? Untuk menjawab pertanyaan ini marilah kita lihat dahulu dari berbagai sudut pandang. Rumah Batak itu tidak memiliki kamar (pada zaman dahulu), jadi jelas perasaan kurang enak kalau di bandingkan pada zaman sekarang.

JABU NAMAR AMPANG NA MARJUAL

Para nenek moyang orang Batak (Bangso Batak) menyebut Rumah Batak yaitu “jabu na marampang na marjual”. Ampang dan Jual adalah tempat mengukur padi atau biji bijian seperti beras/kacang dll. Jadi Ampang dan Jual adalah alat pengukur, makanya Rumah Gorga, Rumah Adat itu ada ukurannya, memiliki hukum hukum, aturan aturan, kriteria kriteria serta batas batas.

Biarpun Rumah Batak itu tidak memiliki kamar/dinding pembatas tetapi ada wilayah (derah) yang di atur oleh hukum hukum. Ruangan Ruma Batak itu biasanya di bagi atas 4 wilayah (bahagian) yaitu:

1. Jabu Bona ialah daerah sudut kanan di sebelah belakang dari pintu masuk rumah, daerah ini biasa di temapti oleh keluarga tuan rumah.
2. Jabu Soding ialah daerah sudut kiri di belakang pintu rumah. Bahagian ini di tempati oleh anak anak yang belum akil balik (gadis)
3. Jabu Suhat, ialah daerah sudut kiri dibahagian depan dekat pintu masuk. Daerah ini di tempati oleh anak tertua yang sudah berkeluarga, karena zaman dahulu belum ada rumah yang di ongkos (kontrak) makanya anak tertua yang belum memiliki rumah menempati jabu SUHAT.
4. Jabu Tampar Piring, ialah daerah sudut kanan di bahagian depan dekat dengan pintu masuk. Daerah ini biasa disiapkan untuk para tamu, juga daerah ini sering di sebut jabu tampar piring atau jabu soding jolo-jolo.

Disamping tempat keempat sudut utaman tadi masih ada daerah antara Jabu Bona dan Jabu Tampar Piring, inilah yang dinamai Jabu Tongatonga Ni Jabu Bona. Dan wilayah antara Jabu Soding dan Jabu Suhat disebut Jabu Tongatonga Ni Jabu Soding.

Itulah sebabnya ruangan Ruma Batak itu boleh dibagi 4 (empat) atau 6 (enam), makanya ketika orang batak mengadakan pertemuan (rapat) atau RIA di dalam rumah sering mengatakan sampai pada saat ini; Marpungu hita di jabunta na mar Ampang na Marjual on, jabu na marsangap na martua on. Dan seterusnya……

BAGAS RIPE RIPE

Dihatiha nasalpui (zaman dahulu) terkadang suku bangsa Batak i mendirikan rumah secara kongsi atau rumah bersama antara abang dan adik dan rumah itu di sebut BAGAS RIPE RIPE.

Sebelum mendirikannya mereka terlebih dahulu bermusyawarah dan menentukan dan memutuskan; siapa yang menempati jabu BONA, siapa yang menempati jabu Soding jabu SUHAT dan jabu Tamparpiring. Tentunya rumah seperti ini sudah agak lebih besar, dan sifat seperti ini adalah sisa sisa sifat masyarakat kommunal. Namun biarpun adanya nampak sifat sifat kommunal pada keluarga seperti ini, mereka seisi rumah saling menghormati terutama terhadap wanita.

Tidak pernah ada perkosaan ataupun perselingkuhan seperti marak maraknya di zaman yang serba materialis ini. Para nenek Suku Batak pada hatiha (ketika) itu menghormati istri kawannya yang kebetulan suaminya berada di luar rumah.

Disinilah keindahan bahagian dalam rumah Batak itu terutama di bidang moral. Mereka menghormati hak hak orang lain dan menghormati ukuran ukuran (Ampang/Jual) hukum hukum wilayah didalam rumah yang tidak memiliki bilik (kamar) mereka sangat mengakui bahwa rumah itu memang jabu namar Ampang Marjual.

Rumah (Ruma) yang didalam bahasa asing disebut HOUSE mempunyai banyak cara untuk menyebutnya sesuai dengan fungsinya. Bilamana Ruma itu tempat penyimpanan padi maka para nenek nenek Suku Batak menyebutnya Sopo PARPEOPAN EME. Bilamana Ruma (Sopo) itu berfungsi sebagai tempat pemujaan DEWATA MULA JADI NA BOLON I (TUHAN ALLAH), maka tempat itu dinamakan Joro. Dan sampai sekarangpun masih banyak orang Batak menyebut Gereja itu dengan sebutan Bagas Joro ni DEBATA. Bagas Joro yang lama bentuknya persis seperti Ruma Batak dan sisa-sisanya masih ada pernah penulis lihat di daerah Humbang dan mereka beribadah pada hari Sabtu.

Ada juga Ruma itu khusus tempat musyawarah para keluarga dan para kerabat kerabat tempat membicarakan hal hal yang penting. Tempat tersebut di namakan Tari SOPO dan biasanya tari sopo tidak mempunyai dinding contohnya dapat kita lihat di Lumban Bulbul Kecamatan Balige yang pemiliknya bernama S.B Marpaung (Op. Miduk), atau di beberapa tempat masih ada lagi sisa sisa tari sopo yang dapat kita lihat.

Kenapa disebut BAGANDING TUA?

Kata kata yang lain untuk menyebut rumah itu ada juga mengatakan; SIBAGANDING TUA, menurut sunber yang layak di percayai BAGANDING TUA itu adalah sebuah mahluk yang juga ciptaan Allah, wujudnya seperti seekor ular yang panjangnya paling paling 2 jengkal jari tangan. Bagi orang yang bernasib mujur bisa saja BAGANDING TUA datang rumahnya dan pasti membawa rejeki yang melimpah ruah. Pokoknya bila Ruma itu memiliki BAGANDING TUA pemiliki Ruma itu akan kedatangan rejeki dari berbagai penjuru.
Demikianlah Suku Batak itu sering memakai kata kata penghalus dan sastra untuk menunjukkan ruma sebagai tempat tinggal manusia dengan menyebut JABU SI BAGANDING TUA.

Dari catatan yang dihimpun, Istilah Baganding tua juga diartikan sebagai peristilahan kepada perempuan (istri) pemilik rumah, dan untuk laki-laki (suami) diistilahkan Simanguliman. Bila dalam petuah upacara khusus mengartikan rumah sebagai “bagas Sibaganding tua Simanguliman on”, artinya suami dan istri masih lengkap.
Perempuan (isteri) juga diartikan “pangalapan tua”, sumber berkat, sementara rumah diartikan sama dengan perhimpunan berkat harta dan keturunan serta kehormatan.
“Namarampang Namarjual” diartikan bagi sebuah rumah yang memiliki kehidupan, memiliki harta, aturan dan penegakan hukum dalam keluarga serta masyarakat.
Kehilangan seorang isteri merupakan kehilangan kehormatan bagi sebuah keluarga dan rumah itu sendiri, sehingga penempatan istilah Sibagandingtua dan Namarampang Namarjual otomatis tidak lagi diucapkan sampai seorang perempuan (isteri) atau menantu dari salah seorang anak lelaki ada menempati rumah itu.
Menurut cerita rakyat, bila seorang isteri bijaksana yang menghidupi keluarga itu meninggal dunia, maka “boraspati” (cecak) akan meninggalkan rumah itu. Boraspati adalah lambang kesuburan dan selalu dibuat hiasan rumah adat batak. Kebenarannya belum pernah diteliti.

BALE BALE:

Berbagai macam penyebutan untuk menunjukkan Ruma (tempat tinggal manusia) di dalam bahasa Batak, kata BALE juga sering di sebut sebut, tetapi BALE kurang biasa di pakai sebagai hunian tempat berkeluarga (HOUSE dalam Bahasa Inggris). Bale artinya Balai tempat bertemu antara penjual dan pembeli. Contoh Balairung Balige yang modelnya seperti RUMA GORGA BATAK, akan tetapi fungsinya adalah sebagai tempat berjual beli kebutuhan sehari-hari.

Akan tetapi biarpun BALEBALE tidak biasa seperti hunian tempat berkeluarga dan anak beranak Orang Batak sekarang sering juga menyebutkannya sebagai rumah biasa (House). Buktinya; mereka berkata “PAJONG JONG BALE BALE do anakta nuaeng di Medan”, artinya: Anak kita sedang membangun rumah di Medan. Padahal rumah yang dibangun anaknya di Medan adalah rumah gedong. Disan do “Bale balenta”, (Disanalah rumah kita) “Nungnga adong Balebale ni lae i di Jakarta” (sudah ada rumah ipar kita itu di Jakarta.

Tangga gogop (genap)

Tadi kita sudah mengetahui bahwa Ruma Batak itu menurut tangga dan pintunya dibagi menjadi 2 (dua) bahagian yaitu Ruma Batak si Tolumbea dan Ruma Batak Di Baba ni Amporik. Namun kalau jumlah anak tangganya selalu ganjil apakah itu beranak tangga 9 atau 11 atau 7 pokoknya jumlahnya selalu ganjil. Bagi masyarakat Batak Toba jumlah anak tangga yang genap (gogop) adalah pantang, sebab jumlah anak tangga rumah adalah menunjukkan bahwa pemilik rumah adalah keturunan budak (Hatoban).

Hal seperti ini tidak terdapat bagi Ruma Batak sebab tidak mungkin seorang budak dapat mendirikan Rumah Batak, atau sebagai pemilik Ruma Batak. Kalaupun ada Rumah beranak tangga yang genap (gogop) itu mungkin pada rumah jenis lain. Karena di tanah Batak pada jaman dahulu dan jaman sekarang ada juga kita dapati rumah EMPER bahkan jumlahnya jauh melebihi dari Ruma Batak.

Menurut cerita yang didapat dari hasil bincang bincang antara penulis dengan orang yang layak dipercayai bahwa pada zaman dahulu ada terdapat budak di Samosir. Dan kalau budak itu mau makan terlebih dahulu bersuara ngeong (mar ngeong) seperti suara kucing barulah tuannya meletakkan nasi di lantai rumah.
Dan kalau budak sudah merdeka di buatlah rumah pondoknya dengan tanda jumlah anak tangga rumahnya genap seperti 2 atau 4.

Pada zaman zaman permulaan Kemerdekaan Indonesia penulis masih sempat mendengar bahwa anak pemilik rumah yang bertangga genap sangat sulit mendapat jodoh yang cantik. Jadi secara jelasnya bahwa Rumah Batak itu tidak ada yang beranak tangga yang gogop.

DATU :

Di dalam masyarakat Batak yang lama, Datu adalah sangat berperan baik dalam rangka penyediaan bahan bahan bagunan dari hutan seperti kayu, ijuk (bahan untuk atap rumah), rotan, batu pondasi dll. Sebab bukan tidak mungkin bahan bahan bagunan itu adalah milik dari mahluk mahluk halus di hutan. Misalnya batu itu adalah sebagai tempat duduk duduknya (santai santai) mahluk halus di hutan dan terambil oleh manusia ubtuk bahan pondasi Ruma ini akan membawa malapetaka bagi penghuni Ruma. Begitu juga kayu itu, ada juga miliknya penguasa penguasa hutan yang tak boleh digunakan manusia, begitu juga rotan sebagai bahan pengikat ada juga miliknya penguasa Hutan (Begu).

Datu itu memiliki pengetahuan metafisik yang dapat melihat, mendengar dan mencium yang tak dapat dilihat dan didengar oleh manusia biasa. Untuk memulai pembangunan ruma dan memasuki ruma, datu harus membuka buku Porhalaan/ sejenis buku pedoman orang Batak.

Di dalam buku Porhalaan ada ditunjukkan waktu kapan begu berdiam diri, kapan bersantai, kapan mengganggu, makanya harus ada masyarakat Batak pada zaman dahulu percaya akan Sumangot dan begu, yaitu roh nenek moyang yang selalu hidup disebut tondi orang yang sedang bermimpi dianggap rohnya sedang bepergian dan mengembara. Apa yang dialaminya dalam pengembaraan itulah mimpinya.

Roh berpusat dalam kepala (simanjujung). Kepala orang Batak tidak boleh dilangkahi, bisa-bisa rohnya merasa malu, terkejut atau melompat. Itulah sebabnya orang Batak pada acara-acara tertentu meletakkan beras sedikit di atas kepala (manjomput boras si pir ni tondi) misalnya kalau kebakaran rumah, kedatangan menantu, anak yang sudah lama merantau dan pulang ke rumah.

Orang Batak selalu suka menyebutkan perkataan Horas. Perkataan itu sama dengan keras atau kokoh; kekar, di dalam Bahasa Indonesia orang berjumpa satu sama lain mengucapkan Horas, para pemimpin (Presiden-Menteri-Gubernur dll) yang datang berkunjung ke daerah Toba selalu disambut dengan suara gemuruh Horas…horas, ada pula ucapan Horas Bangso Batak maksudnya supaya roh orang itu keras, kuat, kokoh. Karena orang Batak itu selalu mengutamakan Pir ni Tondi (kerasnya roh).

Orang Batak yang pintar dan dituakan di masyarakat juga digolongkan Datu Perkataan Datu berasal dari kata Da+Tu. Perkataan Da sering digunakan untuk menghormati seseorang misalnya Da inang (ibu), Da tulang, Da ompung (nenek).

Datu, diyakini selalu mengatakan yang benar, mensyaratkan kebenaran yang tidak diketahui kebanyakan orang. Mengatakan yang benar “tutu”, dikuatkan dengan pernyataan “nda-tutu” atau “da-tutu”. Sama halnya pernyataan serang ibu “da-inang”.
Istilah dan pemahaman arti Datu mulai bergeser saat terjadinya pembohongan dan kekebasan mengaktualisasikan diri dalam masyarakat. Kesalahan yang pernah terjadi dilakukan seorang datu akhirnya berdampak kepada merosotnya penilaian tentang Datu.
Datu, saat ini cenderung diartikan hanya sekedar ahli pengobatan dan nujum, perdukunan diartikan pula perilaku perbuatan jelek kepada orang lain seperti santet dan lain sebagainya.

BAHAGIAN-BAHAGIAN RUMA BATAK

Menurut tingkatannya Ruma Batak itu dapat dibagi menjadi 3 bagian :
1. Bagian Bawah (Tombara) yang terdiri dari batu pondasi atau ojahan tiang-tiang pendek, pasak (rancang) yang menusuk tiang, tangga (balatuk)
2. Bagian Tengah (Tonga) yang terdiri dari dinding depan, dinding samping, dan belakang
3. Bagian Atas (Ginjang) yang terdiri dari atap (tarup) di bawah atap urur diatas urur membentang lais, ruma yang lama atapnya adalah ijuk (serat dari pohon enau).

Bagian bawah berfungsi sebagai tempat ternak seperti kerbau, lembu dll. Bagian tengah adalah ruangan tempat hunian manusia. Bagian atas adalah tempat-tempat penyimpanan benda-benda keramat (ugasan homitan).

Menurut seorang peneliti dan penulis Gorga Batak (Ruma Batak) tahun 1920 berkebangsaan Belanda bernama D.W.N. De Boer, di dalam bukunya Het Toba Batak Huis, ketiga benua itu adalah :
1. Dunia atau banua toru (bawah)
2. Dunia atau banua tonga (tengah)
3. Dunia atau banua ginjang (atas)

Selanjutnya orang Batak Toba yang lama telah berkeyakinan bahwa ketiga dunia (banua) itu diciptakan oleh Maha Dewa yang disebut dengan perkataan Mula Jadi Na Bolon. Seiring dengan pembagian alam semesta (jagad raya) tadi yang terdiri dari 3 bagian, maka orang Batak Toba pun membagi/ merencanakan ruma tradisi mereka menjadi 3 bagian.

Rumah tradisi mempunyai tiga tingkat sesuai dengan tingkat kosmos, demikian tulisan Achim Sibeth seorang the Batak peoples of atap (tarup). Atap rumah tradisi itu adalah ijuk (serat batang pohon enau) yang disusun dengan tebal  20 cm rapi dan berseni. Di bawah ijuk ada lais-lais kecil yang banyak, bahannya diambil dari pohon enau juga dinamai hodong. Di atas ijuk tersebut ditaruh dengan lidi tarugit itu bukan asal diletakkan semuanya, disusun dengan seni Batak tertentu sehingga bagian atas ruma Batak itu nampak gagah, anggun, dan berseni.

Tentang tarugit

Tarugit adalah suatu benda untuk menciptakan suatu ungkapan yang dapat menjadi suatu pedoman hidup orang Batak Toba. Para orang-orang Batak sering berkata Ni arit tarugit Pora-pora, molo tinean uli teanon do dohot gora, atau dengan kata lain unang hita ripe sitean uli so dohot tumean gora.

Sebagai inti sari dari ungkapan ini adalah uli dan gora, namun uli dan gora adalah 2 kata yang sangat berlawanan tetapi sangat berguna untuk pedoman hidup orang Batak Toba. Uli adalah menggambarkan keberuntungan (laba), kehormatan, kejayaan, keharuman nama. Gora adalah menggambarkan pengeluaran tenaga, modal, pengorbanan waktu dan berbagai perjuangan. Sebagai contoh : Untuk menjadi orang success terkenal/ beruntung atau sebagai orang pintar kita harus mengeluarkan modal yang besar, waktu dan tenaga yang berlebih dan berbagai promosi sebagai goranya.

Untuk menjadi seorang pintar dan sarjana atau jenderal, seseorang harus kuat bekerja dan berjuang serta memakan gizi baik. Dalam pesan para nenek (ompung ta na parjolo) janganlah menjadi manusia ripe. Manusia si ripe artinya orang yang hanya memikirkan dan memperoleh keuntungan tanpa melalui pengorbanan dan perjuangan. Makanya di zaman yang serba canggih ini banyak kita jumpai manusia-manusia yang tidak beres karena manusia itu telah meninggalkan poda ni ompu itu;
Ni arit tarugit pora-pora unang hita ripe sitean uli so dohot tumea gora.




Nilai Filosofi


Rumah adat bagi orang Batak didirikan bukan hanya sekedar tempat bemaung dan berteduh dari hujan dan panas terik matahari semata tetapi sebenanya sarat dengan nilai filosofi yang dapat dimanfaatkan sebagai pedoman hidup.

Beragam pengertian dan nilai luhur yang melekat dan dikandung dalam rumah adat tradisionil yang mestinya dapat dimaknai dan dipegang sebagai pandangan hidup dalam tatanan kehidupan sehari-hari, dalam rangka pergaulan antar individu.

Dalam kesempatan ini akan dipaparkan nilai flosofi yang terkandung didalamnya sebagai bentuk cagar budaya, yang diharapkan dapat menjadi sarana pelestarian budaya, agar kelak dapat diwariskan kepada generasi penerus untuk selalu rindu dan cinta terhadap budayanya.

Proses Mendirikan Rumah.

Sebelum mendirikan rumah lebih dulu dikumpulkan bahan-bahan bangunan yang diperlukan, dalam bahasa Batak Toba dikatakan “mangarade”. Bahan-bahan yang diinginkan antara lain tiang, tustus (pasak), pandingdingan, parhongkom, urur, ninggor, ture-ture, sijongjongi, sitindangi, songsong boltok dan ijuk sebagai bahan atap. Juga bahan untuk singa-singa, ulu paung dan sebagainya yang diperlukan.

Dalam melengkapi kebutuhan akan bahan bangunan tersebut selalu dilaksanakan dengan gotong royong yang dalam bahasa Batak toba dikenal sebagai “marsirumpa” suatu bentuk gotong royong tanpa pamrih.

Sesudah bahan bangunan tersebut telah lengkap maka teknis pengerjaannya diserahkan kepada “pande” (ahli di bidang tertentu, untuk membuat rumah disebut tukang) untuk merancang dan mewujudkan pembangunan rumah dimaksud sesuai pesanan dan keinginan si pemilik rumah apakah bentuk “Ruma” atau “Sopo”.

Biasanya tahapan yang dilaksanakan oleh pande adalah untuk seleksi bahan bangunan dengan kriteria yang digunakan didasarkan pada nyaring suara kayu yang diketok oleh pande dengan alat tertentu. Hai itu disebut “mamingning”.

Kayu yang suaranya paling nyaring dipergunakan sebagai tiang “Jabu bona”. Dan kayu dengan suara nyaring kedua untuk tiang “jabu soding” yang seterusnya secara berturut dipergunakan untuk tiang “jabu suhat” dan “si tampar piring”.

Tahapan selanjutnya yang dilakukan pande adalah “marsitiktik”. Yang pertama dituhil (dipahat) adalah tiang jabu bona sesuai falsafah yang mengatakan “Tais pe banjar ganjang mandapot di raja huta. Bolon pe ruma gorga mandapot di jabu bona”.

Salah satu hal penting yang mendapat perhatian dalam membangun rumah adalah penentuan pondasi. Ada pemahaman bahwa tanpa letak pondasi yang kuat maka rumah tidak bakalan kokoh berdiri. Pengertian ini terangkum dalam falsafah yang mengatakan “hot di ojahanna” dan hal ini berhubungan dengan pengertian Batak yang berprinsip bahwa di mana tanah di pijak disitu langit jungjung.

Pondasi dibuat dalam formasi empat segi yang dibantu beberapa tiang penopang yang lain. Untuk keperluan dinding rumah komponen pembentuk terdiri dari “pandingdingan” yang bobotnya cukup berat sehingga ada falsafah yang mengatakan “Ndang tartea sahalak sada pandingdingan” sebagai isyarat perlu dijalin kerja sama dan kebersamaan dalam memikui beban berat.

Pandingdingan dipersatukan dengan “parhongkom” dengan menggunakan “hansing-hansing” sebagai alat pemersatu. Dalam hal ini ada ungkapan yang mengatakan “Hot di batuna jala ransang di ransang-ransangna” dan “hansing di hansing-hansingna”, yang berpengertian bahwa dasar dan landasan telah dibuat dan kiranya komponen lainnya juga dapat berdiri dengan kokoh. Ini dimaknai untuk menunjukkan eksistensi rumah tersebut, dan dalam kehidupan sehari-hari. Dimaknai juga bahwa setiap penghuni rumah harus selalu rangkul merangkul dan mempunyai pergaulan yang harmonis dengan tetangga.

Untuk mendukung rangka bagian atas yang disebut “bungkulan” ditopang oleh “tiang ninggor”. Agar ninggor dapat terus berdiri tegak, ditopang oleh “sitindangi”, dan penopang yang letaknya berada di depan tiang ninggor dinamai “sijongjongi”. Bagi orang Batak, tiang ninggor selalu diposisikan sebagai simbol kejujuran, karena tiang tersebut posisinya tegak lurus menjulang ke atas. Dan dalam menegakkan kejujuran tersebut termasuk dalam menegakkan kebenaran dan keadilan selalu ditopang dan dibantu oleh sitindangi dan sijongjongi.

Dibawah atap bagian depan ada yang disebut “arop-arop”. Ini merupakan simbol dari adanya pengharapan bahwa kelak dapat menikmati penghidupan yang layak, dan pengharapan agar selalu diberkati Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam kepercayaan orang Batak sebelum mengenal agama disebut Mula Jadi Na Bolon sebagai Maha Pencipta dan Khalik langit dan bumi yang dalam bahasa Batak disebut “Si tompa hasiangan jala Sigomgom parluhutan”.

Di sebelah depan bagian atas yang merupakan komponen untuk merajut dan menahan atap supaya tetap kokoh ada “songsong boltok”. Maknanya, seandainya ada tindakan dan pelayanan yang kurang berkenan di hati termasuk dalam hal sajian makanan kepada tamu harus dipendam dalam hati. Seperti kata pepatah Melayu yang mengatakan “Kalau ada jarum yang patah jangan di simpan dalam peti kalau ada kata yang salah jangan disimpan dalam hati�.

“Ombis-ombis” terletak disebalah kanan dan kiri yang membentang dari belakang ke depan. Kemungkinan dalam rumah modern sekarang disebut dengan list plank. Berfungsi sebagai pemersatu kekuatan bagi “urur” yang menahan atap yang terbuat dari ijuk sehingga tetap dalam keadaan utuh. Dalam pengertian orang Batak ombis-ombis ini dapat menyimbolkan bahwa dalam kehidupan manusia tidak ada yang sempurna dan tidak luput dari keterbatasan kemampuan, karena itu perlu untuk mendapat nasehat dan saran dari sesama manusia. Sosok individu yang berkarakter seperti itu disebut “Pangombisi do ibana di angka ulaon ni dongan” yaitu orang yang selalu peduli terhadap apa yang terjadi bagi sesama baik di kala duka maupun dalam sukacita.

Pemanfaatan Ruangan

Pada bagian dalam rumah (interior) dibangun lantai yang dalam pangertian Batak disebut “papan”. Agar lantai tersebut kokoh dan tidak goyang maka dibuat galang lantai (halang papan) yang disebut dengan “gulang-gulang”. Dapat juga berfungsi untuk memperkokoh bangunan rumah sehingga ada ungkapan yang mengatakan “Hot do jabu i hot margulang-gulang, boru ni ise pe dialap bere i hot do i boru ni tulang.”

Untuk menjaga kebersihan rumah, di bagian tengah agak ke belakang dekat tungku tempat bertanak ada dibuat lobang yang disebut dengan “talaga”. Semua yang kotor seperti debu, pasir karena lantai disapu keluar melalui lobang tersebut. Karena itu ada falsafah yang mengatakan “Talaga panduduran, lubang-lubang panompasan” yang dapat mengartikan bahwa segala perbuatan kawan yang tercela atau perbuatan yang dapat membuat orang tersinggung harus dapat dilupakan.

Di sebelah depan dibangun ruangan kecil berbentuk panggung (mirip balkon) dan ruangan tersebut dinamai sebagai “songkor”. Di kala ada pesta bagi yang empunya rumah ruangan tersebut digunakan sebagai tempat “pargonsi” (penabuh gendang Batak) dan ada juga kalanya dapat digunakan sebagai tempat alat-alat pertanian seperti bajak dan cangkul setelah selesai bertanam padi.

Setara dengan songkor di sebelah belakang rumah dibangun juga ruangan berbentuk panggung yang disebut “pangabang”, dipergunakan untuk tempat menyimpan padi, biasanya dimasukkan dalam “bahul-bahul”. Bila ukuran tempat padi itu lebih besar disebut dengan “ompon”. Hal itu penyebab maka penghuni rumah yang tingkat kehidupannya sejahtera dijuluki sebagai “Parbahul-bahul na bolon”. Dan ada juga falsafah yang mengatakan “Pir ma pongki bahul-bahul pansalongan. Pir ma tondi luju-luju ma pangomoan”, sebagai permohonan dan keinginan agar murah rejeki dan mata pencaharian menjadi lancar.

Melintang di bagian tengah dibangun “para-para” sebagai tempat ijuk yang kegunaannya untuk menyisip atap rumah jika bocor. Dibawah para�para dibuat “parlabian” digunakan tempat rotan dan alat-alat pertukangan seperti hortuk, baliung dan baji-baji dan lain sebagainya. Karena itu ada fatsafah yang mengatakan “Ijuk di para-para, hotang di parlabian, na bisuk bangkit gabe raja ndang adong be na oto tu pargadisan” yang artinya kira-kira jika manusia yang bijak bestari diangkat menjadi raja maka orang bodoh dan kaum lemah dapat terlindungi karena sudah mendapat perlakuan yang adil dan selalu diayomi.

Untuk masuk ke dalam rumah dilengkapi dengan “tangga” yang berada di sebelah depan rumah dan menempel pada parhongkom. Untuk rumah sopo dan tangga untuk “Ruma” dulu kala berada di “tampunak”. Karena itu ada falsafah yang berbunyi bahwa “Tampunak ni sibaganding, di dolok ni pangiringan. Horas ma na marhaha-maranggi jala tangkas ma sipairing-iringan”.

Ada kalanya keadaan tangga dapat menjadi kebanggaan bagi orang Batak. Bila tangga yang cepat aus menandakan bahwa tangga tersebut sering dilintasi orang. Pengertian bahwa yang punya rumah adalah orang yang senang menerima tamu dan sering dikunjungi orang karena orang tersebut ramah. Tangga tersebut dinamai dengan “Tangga rege-rege”.

Gorga

Disebelah depan rumah dihiasi dengan oramen dalam bentuk ukiran yang disebut dengan “gorga” dan terdiri dari beberapa jenis yaitu gorga sampur borna, gorga sipalang dan gorga sidomdom di robean.

Gorga itu dihiasi (dicat) dengan tlga warna yaitu wama merah (narara), putih (nabontar) dan hitam (nabirong). Warna merah melambangkan ilmu pengetahuan dan kecerdasan yang berbuah kebijaksanaan. Warna putih melambangkan ketulusan dan kejujuran yang berbuah kesucian. Wama hitam melambangkan kerajaan dan kewibawaan yang berbuah kepemimpinan.

Sebelum orang Batak mengenal cat seperti sekarang, untuk mewarnai gorga mereka memakai “batu hula” untuk warna merah, untuk warna putih digunakan “tano buro” (sejenis tanah liat tapi berwana putih), dan untuk warna hitam didapat dengan mengambil minyak buah jarak yang dibakar sampai gosong. Sedangkan untuk perekatnya digunakan air taji dari jenis beras yang bernama Beras Siputo.

Disamping gorga, rumah Batak juga dilengkapi dengan ukiran lain yang dikenal sebagai “singa-singa”, suatu lambang yang mengartikan bahwa penghuni rumah harus sanggup mandiri dan menunjukkan identitasnya sebagai rnanusia berbudaya. Singa-singa berasal dari gambaran “sihapor” (belalang) yang diukir menjadi bentuk patung dan ditempatkan di sebelah depan rumah tersebut. Belalang tersebut ada dua jenis yaitu sihapor lunjung untuk singa-singa Ruma dan sihapor gurdong untuk rumah Sopo.

Hal ini dikukuhkan dalam bentuk filsafat yang mengatakan “Metmet pe sihapor lunjung di jujung do uluna” yang artinya bahwa meskipun kondisi dan status sosial pemilik rumah tidak terlalu beruntung namun harus selalu tegar dan mampu untuk menjaga integritas dan citra nama baiknya.

Perabot Penting

Berbagai bentuk dan perabotan yang bernilai bagi orang Batak antara lain adalah “ampang” yang berguna sebagai alat takaran (pengukur) untuk padi dan beras. Karena itu ada falsafah yang mengatakan “Ampang di jolo-jolo, panguhatan di pudi-pudi. Adat na hot pinungka ni na parjolo, ihuthononton sian pudi”. Pengertian yang dikandungnya adalah bahwa apa bentuk adat yang telah lazim dilaksanakan oleh para leluhur hendaknya dapat dilestarikan oleh generasi penerus. Perlu ditambahkan bahwa “panguhatan” adalah sebagai tempat air untuk keperluan memasak.

Di sebelah bagian atas kiri dan kanan yang letaknya berada di atas pandingdingan dibuat “pangumbari” yang gunanya sebagai tempat meletakkan barang-barang yang diperlukan sehari-hari seperti kain, tikar dan lain-lain. Falsafah hidup yang disuarakannya adalah “Ni buat silinjuang ampe tu pangumbari. Jagar do simanjujung molo ni ampehon tali-tali”.

Untuk menyimpan barang-barang yang bernilai tinggi dan mempunyai harga yang mahal biasanya disimpan dalam “hombung”, seperti sere (emas), perak, ringgit (mata uang sebagai alat penukar), ogung, dan ragam ulos seperti ragi hotang, ragi idup, ragi pangko, ragi harangan, ragi huting, marmjam sisi, runjat, pinunsaan, jugia so pipot dan beraneka ragam jenis tati-tali seperti tutur-tutur, padang ursa, tumtuman dan piso halasan, tombuk lada, tutu pege dan lain sebagainya.

Karena orang Batak mempunyai karakter yang mengagungkan keterbukaan maka di kala penghuni rumah meninggal dunia dalam usia lanjut dan telah mempunyai cucu maka ada acara yang bersifat kekeluargaan untuk memeriksa isi hombung. Ini disebut dengan “ungkap hombung” yang disaksikan oleh pihak hula-hula.

Untuk keluarga dengan tingkat ekonomi sederhana, ada tempat menyimpan barang-barang yang disebut dengan “rumbi” yang fungsinya hampir sama dengan hombung hanya saja ukurannya lebih kecil dan tidak semewah hombung.

Sebagai tungku memasak biasanya terdiri dari beberapa buah batu yang disebut “dalihan”. Biasanya ini terdiri dari 5 (lima) buah sehingga tungku tempat memasak menjadi dua, sehingga dapat menanak nasi dan lauk pauk sekaligus.

Banyak julukan yang ditujukan kepada orang yang empunya rumah tentang kesudiannya untuk menerima tamu dengan hati yang senang yaitu “paramak so balunon” yang berarti bahwa “amak” (tikar) yang berfungsi sebagai tempat duduk bagi tamu terhormat jarang digulung, karena baru saja tikar tersebut digunakan sudah datang tamu yang lain lagi.

“Partataring so ra mintop” menandakan bahwa tungku tempat menanak nasi selalu mempunyai bara api tidak pernah padam. Menandakan bahwa yang empunya rumah selalu gesit dan siap sedia dalam menyuguhkan sajian yang perlu untuk tamu.

“Parsangkalan so mahiang” menandakan bahwa orang Batak akan berupaya semaksimal mungkin untuk memikirkan dan memberikan hidangan yang bernilai dan cukup enak yang biasanya dari daging ternak.

Untuk itu semua maka orang Batak selalu menginginkan penghasilan mencukupi untuk dapat hidup sejahtera dan kiranya murah rejeki, mempunyai mata pencaharian yang memadai, sehingga disebut “Parrambuan so ra marsik”.

Tikar yang disebut “amak” adalah benda yang penting bagi orang Batak. Berfungsi untuk alas tidur dan sebagai penghangat badan yang dinamai bulusan. Oleh karena itu ada falsafah yang mengatakan “Amak do bulusan bahul-bahul inganan ni eme. Horas uhum martulang gabe uhum marbere”.

Jenis lain dari tikar adalah rere yang khusus untuk digunakan sebagai alas tempat duduk sehari-hari dan bila sudah usang maka digunakan menjadi “pangarerean” sebagai dasar dari membentuk “luhutan” yaitu kumpulan padi yang baru disabit dan dibentuk bundar. Tentang hal ini ada ungkapan yang mengatakan “Sala mandasor sega luhutan” di mana pengertiannya adalah bahwa jika salah dalam perencanaan maka akibatnya tujuan dapat menjadi terbengkalai.

Penutup

Nilai budaya itu sangat perlu dilestarikan dan hendaknya dapat ditempatkan sebagai dasar filosofi sebagai pandangan hidup bagi generasi penerus kelak. Ada pendapat yang mengatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai budayanya, karena itu Bangso Batak perlu menjaga citra dan jati dirinya agar keberadaannya tetap mendapat tempat dalam pergaulan hubungan yang harmonis.

Penulis juga mengakui bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurna maka segala bentuk saran dan masukan yang sifatnya membangun akan diterima dengan senang hati, Kiranya Tuhan memberkati kita semua. HORAS

komentar (0) / Read More

/

Poda / Nasehat

Ditambol lombu nabolon ndang mardai sira. Andorang so niida sun hinalobina. Hape ia dung tinopot ndang pola ro didia.

Penyesalan akibat berita yang sering lebih besar dari kenyataan.

Ditambol, disembelih, lombu nabolon , lembu besar, ndang, tidak, tiada, mardai sira, terasa garam, andorang so, sebelum, niida, dilihat, sun , banyak, melampaui, hinalobina, kelebihannya. Hape, tetapi, ia dung, setelah, tinopot, ditemukan, dijumpai, kenyataan, ndang pola ro didia, tidak terlalu lebih, biasa saja.

Disi banggik manaek, disi asu martunggu

Pekerjaan baik selalu diintai oleh perbuatan jahat.

Pekerjaan (kejahatan) yang muncul ke kepermukaan akan disiasati dengan tindakan, teguran (hukuman). Mengumpan hukum.

Disi, dimana (menunjuk tempat), menunjukkan peristiwa, banggik , sejenis biawak, manaek, memanjat, asu, anjing, martunggu, menagih, menunggu, (mengintai).

Ndang jadi solangon naponjot ujaon nalumbang.

Jangan memaksakan kehendak kepada orang sedang susah, jangan mengacau hati orang yang lapang dada.

Ndang jadi, jangan, tidak benar, solangon , solang, benyelipkan kayu ke lobang, naponjot, yang padat, ujaon, uja, menggoyang, seperti hendak melonggarkan, berupaya masuk. nalumbang, yang longgar.

Dompak marmeme anak, dompak marmeme boru.

Perlakuan yang sama terhadap anak lakilaki dan anak perempuan dalam kehidupan.

dompak, berhadapan. marmeme , menyuapi dengan mulut, anak, (anak) lakilaki, boru, (anak) perempuan.

Na ra di humbar, na ra di pangenggean. Na ra di uhum, na ra di parlehetan

Yang berpegang kepada hukum, yang cinta kedamaian.

humbar, kendi, tempat penyimpanan. pangenggean , tempat perendaman, uhum, hukum. parlehetan, kesepakatan damai

Bibir ni sapa tu parpagaran
Hata do siingoton, ndang jadi toisan padan.

Jangan sesekali mengabaikan sumpah janji.

Sapa, tempat makanan terbuat dari kayu. parpagaran , pekerjaan pengolahan obat, hata, ucapan, kata. ingot, ingat (siingoton), yang diingat, dipegang, dipedomani. ndang jadi, tidak bisa, tak patut, toisan, perilaku membangkang (tois) angkuh, padan, janji, sumpah.

Topot raja ni uhum, sudung raja ni patik.

Tunjukkan kesalahan kepada penegak hukum dan mintalah pembuatan aturan yang melindungi semua pihak.

Topot, Temu, hadap. uhum , hukum, sudung, minta, tanya. patik, aturan.

Rundut bonang, idaon tu punsuna. Litok aek idaon tu soksokna.

Memahami permasalahan harus ditinjau dari awalnya.

Rundut, kacau, bonang ,benang, idaon, lihat, periksa, punsuna, ujungnya. litok, keruh, aek, air, soksokna, mata airnya, sumber.

Parhosom ni Ulubalang sarumpak hau marobo. Parhosom ni Raja buruk batu matua otal.

Kebencian Pendekar sebatas kayu roboh. Kebencian Pemimpin, batu lapuk tetap utuh.

Parhosom, kebencian, sarumpak , saat tumbang, seketika (seketika jatuh, luluh), hau, kayu, marobo, tersungkur, tumbang. Raja, pemimpin, berlandaskan kebenaran, buruk, tua, lapuk, matua, tua, lama, lama sekali, abadi, otal, erat, kuat, teguh

Unang marhandang buruk unang adong solotan sogot.
Uanag marhata juruk unang adong solsolan sogot.

Bila tak ingin menyesal, jangan sembarang omong.

Unang, jangan, marhandang buruk , pagar buruk, lapuk, adong, ada, solotan, menyisip, sogot, besok, kelak, di kemudian hari, hata, marhata, kata, ucapan, juruk, sembarangan, tidak ada etika, sembrono, solsolan, menyesali.

Panarus pangarungga, panangko pangihutihut

Penjahat yang berpurapura seperti orang baik.

Panarus, yang merusak pagar, Pangarungga , yang meperbaiki pagar, Panangko, pencuri, maling, korupor, Pangihutihut, pelacak jejak.
Dia yang melanggar hukum, berpurapura menegakkan hukum, pencuri berpurapura melacak jejak pencuri (Maling teriak maling).



PODA, SIPAINGOT, BURA DOHOT ANDUNG
Posted on April 12, 2007 by tanobatak

Bonar Siahaan

PODA

1. Pantun hangoluan tois hamagoan.
2. Seang do tarup ijuk soada langge panoloti, seang do sipaingot so adong na mangoloi.
3. Unang marhandang na buruk, unang adong solotan sogot, unang marhata na juruk unang adong solsolan marsogot.
4. Tinallik dulang tampak dohot aekna. Pinungka hata (ulaon) unang langlang di tagetna.
5. Unang sinuan padang di ombur-ombur, unang sinuan hata nagabe humondur-hondur.
6. Anduhur pidong jau sitangko jarum pidong muara, gogo sibahen na butong tua sibahen na mamora, roha unang soada.
7. Aek dalan ni solu sian tur dalan ni hoda, gogo mambahen butong, tua sibahen mamora.
8. Anduhur pidong toba siruba-ruba pidong harangan, halak na losok mangula jadian rapar mangan.
9. Anduhur pidong toba siruba-ruba pidong harangan, halak na padot mangula ido na bosur mangan.
10. Singke di ulaon sipasing di baboan, tigor hau tanggurung burju pinaboan-boan.
11. Pauk ni Aritonang pauk laho mangula, burju pinaboan-boan dongan sarimatua.
12. Hotang-hotang sodohon ansimun sibolaon, hata-hata sodohonon sitongka paboaboaon.
13. Handang niaithon na dsua gabe sada, niantan pargaiton unang i dalan bada.
14. Hori sada hulhulan bonang sada simbohan, tangkas ma sinungkun nanget masipadohan.
15. Ijuk di para-para hotang di parlabian, na bisuk nampuna hata na oto tu pargadisan.
16. Hotang do paninaran hadang-hadangan pansalongan.
17. Bogas ni Gaja Toba tiur do di jolo rundut do di pudi, bogas ni Raja Toba tiur do di jolo tota dohot di pudi.
18. Dang sibahenon dangka-dangka dupang-dupang, dang sibahenon hata margarar utang.
19. Sinuan bulu di parbantoan dang marganda utang molo pintor binahonan.
20. Sinuan bulu di parbantoan sai marganda do utang na so binahonan.
21. Niduda bangkudu sada-sada tapongan, sai marganda lompit do utang ia so jalo-jalo binahonan.
22. Manggual sitindaon mangan hoda sigapiton, tu jolo nilangkahon tu pudi sinarihon.
23. Langkitang gabe hapur, nahinilang gabe mambur.
24. Molo duri sinuan duri ma dapoton. Ia bunga sinuan bunga ma dapoton, ia naroa sinuan naroa ma dapoton.
25. Jolo marjabu bale-bale asa marjabu sopo, jolo sian na tunggane asa tu naumposo molo makkuling natunggane manangi ma naumposo.
26. Ingkon manat marpiu tali, ingkon pande marjalin bubu, ingkon manat mangula tahi, ingkon pande mangula uhum.
27. Masihurha manukna unang teal buriranna, masiajar boruna unang suda napuranna.
28. Tuit sitara tuit tuit pangalahona, natuit anak i mago horbona, molo natuit boru mago ibotona.
29. Siala il siala ilio, utang juma disingir di halak namalo, singir jadi utang di halak na so malo.
30. Magodang aek bila, ditondong aek hualu, mago sideak bibir dibahen pangalualu.
31. Santopap bohi sanjongkal andora, ndang diida mata alai diida roha.
32. Anduhur pidong jau sitapi-tapi pidong toba, binuat roha jau pinarroha roha toba.
33. Gala-gala nasa botohon , manang beha pe laga adong do hata naso boi dohonon.
34. Pir eme di lobongan ndang guguton, uli pe paniaran ni dongan ndang langkupon.
35. Ndang tuk-tuhan batu dakdahan simbora, ndang tuturan datu ajaran na marroha.
36. Songon parsege-sege so seang, sapala seang, seang dohot bota-botana.
37. Naihumarojor bola hudonna, naihumalaput tata indahanna.
38. Pege sangkarimpang halas sahadang-hadangan, rap mangangkat tu ginjang, rap manimbung tutoru halak namarsapanganan.
39. Tinutu gambiri angkup ni sera-sera, pinatonggor panaili, unang hu roha ni deba.
40. Unang songon parmahan ni sunggapa, dihuta horbona dibalian batahina, mago dibahen rohana pidom dibahen tondina.
41. Sitapi uruk sitapi dibalunde, tu dolok pe uruk tu toruan tong ene, ai aha so uruk sai jalo do pinaune-une.
42. Sinintak hotor-hotor, humutur halak-halak asing do timbang dongan asing timbang halak.
43. Mimbar tungkap ni tuak, mimbar do nang daina, muba laut, muba do ugarina.
44. Muba dolok, muba duhutna, muba luat muba do uhumna.
45. Manghuling bortung di topi ni binanga, adong do songon ogung sipatudu luhana.
46. Rigat-rigat ni tangan ndang laos rigathonon, rigat-rigat ni hata ndang laos ihuthononton.
47. Talaktak siugari, ibana mambahen, ibana mamburbari .
48. Hauma sitonang panjangkitan ni langkitang, sai pidom do jolma na olo marhilang.
49. Ndang tarhindat gaor-gaor ni hudon, ndang tarsoluk harajaon hasuhuton.
50. Tanduk ni ursa mardangka-dangka suhut di hasuhutonna raja marhata-hata.
51. Tanduk ni ursa margulu-gulu salohot benge. (na so dohot pe diboto aha namasa)
52. Pansur tandiang di rura ni aek puli, na pantun marroha/marina ido tiruan nauli.
53. Martaguak manuk di toruni bara ruma, napantun marnatoras, ido halak namartua.
54. Habang ambaroba paihut-ihut rura, sapala naung ni dohan, unang pinauba-uba.
55. Pasuda-suda arang so himpal bosi. (patua-tua daging pasuda-suda gogo.)
56. Holi-holi sangkalia, sai marhormat do langkani ama mida tangan ni ina.
57. Masuak ranggas di degehon Sinambela, molo tung i nama dibuat nasoala, nanggo torang diboto deba.
58. Bosi marihur tinopa ni anak lahi, matana tinallikkon tundunma mangonai
59. Dipangasahon suhulna do matana, dipangasahan matana do suhulna.
60. Ndang dao tubis sian bonana.
61. Pitu hali taripar di aek parsalinan, laos so muba do bolang ni babiat.
62. Somalna do peamna.
63. Hapalna mattat dok-dokna, dok-dokna mattat hapalna.
64. Unang martata ilik sada robean.
65. Gala gumal bulu andalu sangkotan ni bonang, asa monang maralohon musu, pinatalu roha maralohon dongan.
66. Garang-garang ni luatan nionjat tu harang ni hoda, molo marbada hula-hula, boruna mandabu tola. Molo marbada boru, hula-hula mandabu tola. Molo marbada anggi, hahana mandabu tola.
67. Unang patubi-tubi manuk pasalpu-salpu onan.
68. Unang dua hali tu aek natua-tua.
69. Hotang hotang sodohon ansimun sobolaon. Hata-hata sodohonon tongka sipaboa-boanan, guru ni hata naso dohonon, guru ni juhut naso seaton.

SALIK

1. Ndang taruba babi so mangallang halto.
2. Holi-holi sangkalia, tading nanioli dibahen nahinabia.
3. Jinama tus-tus tiniop pargolangan, tuk dohonon ni munsung dang tuk gamuon ni tangan.
4. Balik toho songon durung ni Pangururan, sianpudi pe toho asal haroro ni uang.
5. Sanggar rikrik angkup ni sanggar lahi, dongan marmihim jala donganna martahi-tahi.
6. Otik pe bau joring godang pe bau palia.
7. Tinompa ni pinggan paung, molo domu songon namaung-aung, ia dung sirang songon naginaung-gaung.
8. Madungdung bulung godang tu dangka ni bulu suraton, marunung namarroha molo adong uli buaton.
9. Partungkot mundi-mundi, parsoban hau halak, Parroha sibuni-buni pa ago-ago halak.
10. Ia arian martali-tali nabontar, ia borngin martali-tali narara. (ia dompak sarupa jolma ia tundal sarupa begu)
11. Sampilpil di pudina haramonting di jolona, sude halak magigi dibahen pangalahona.
12. Tanduk ni lombu tanduk ni lombu silepe, molo monang marjuji sude sidok lae ia talu sude mambursik be.
13. Najumpang gabe natinangko molo so malo, natinangko gabe najumpang molo malo.
14. Taos rampe ni hajut, ditunjang ampapaluan, mate parjuji talu ndang adong ni andungan, andungan i annon sotung ro utang taguhan, soandungan i anon dang diboto dongan salumban.

UMPAMA PINSANG-PINSANG

1. Siguris lapang ni begu.
2. Sipansur ni aek nilatong.
3. Sipultak pura-pura siusehon pargotaan.
4. Siallang indahan ni begu.
5. Siallang sian toru ni rere.
6. Dompak sarupa jolma tundal sarupa begu.
7. Binarbar simartolu langkop ni panutuan.
8. Situlluk namardai, sidilati panutuan.
9. Partiang latong, hau joring parira, partangkula nabara. (Panirisanna pe malala bagasna pe malala)
10. Sidegehon papan namungkal, sitangkup ihurni hoda pudi.
11. Sitahopi api songon ulok dari.
12. Sitortori na so gondangna.
13. Sihohari ranggiting.
14. Bintatar pandidingan, simartolu parhongkomna, sidok hata hagigihan soada hinongkopna.
15. Sirotahi pangananna.
16. Poring sitorban dolok, manuk sisudahon.
17. Sisopsop rentengna.
18. Sibondut ranggas nagaung-gaung.
19. Silompa lali nahabang.
20. Sialap manaruhon.
21. Sibola hau tindang, sipadugu horbo sabara.
22. Sipatubi-tubi manuk, pasalpu-salpu onan.
23. Sitangko bindana.
24. Sipadomu pardebataan tu parsombaonan.
25. Siaji pinagaranna.
26. Soban bulu, dongan musu.
27. Partungkot mundi-mundi, parsoban hau halak, parroha sibuni-buni pa ago-ago halak.
28. Siuntei naigar, siasomi na asom, sisirai na ansim.
29. Tongka dua pungga saparihotan.
30. Gala-gala naso botohon, muruk pe iba adong do hata nasoboi dohonon.

BURA

1. Unggas jala andalu, bungkas jala mabalu.
2. Datu mangan saputna, raut mangan ompuna.
3. Antuk nabegu soro ulu balang.

UMPAMA APUL-APUL

1. Bagot namadung-dung tu pilo-pilo marajar, tading ma nalungun roma na jagar.
2. Porda marungrung mulakma tu songkirna, Horbo manurun mulakna tu barana, hot ma doal di sangkena, pinggan di rangkena.
3. Amani bogot bagit, amani bagot so balbalon, lungun pe nasai laonna i, tuhirasna tu joloan ni arion.
4. Sitorop ma bonana sitoropma nang rantingna, ia torop hahana toropma nang anggina.
5. Sitorop ma bonana sitoropma nang rantingna, torop ma natoropi tu toropma nasopiga.
6. Mangordang di juma tur, manabur di hauma saba, hea do mauli bulung nang pe anak sasada.
7. Malos ingkau rata riang-riang pinatapu-tapu, molo manumpak Debata di ginjang naung tungil olo jadi napu.
8. Naung pardambirbiran, gabe pardantaboan, jolma naung hagigian gabe jadi sihalomoan.
9. Loja siborok manjalahi guluan, sai mutu do rohani jolma manjalahi hangoluan.
10. Sai tiurma songon ari, sai rondangma songon bulan, sai dapot najinalahan tarida naniluluan.
11. Sinepnep mauruk-uruk silanian ma aek toba, nametmet unang marungut-ungut namagodang unang hansit rohana.
12. Magodang ma aek godang di juluan ni aek raisan, mandao ma ianggo holso sai roma parsaulian.
13. Niraprap hodong, tinapu salaon, sinok do mata modom, musu unang adong be si jagaon.
14. Sai tutonggina ma songon tobu, tu assimna songon sira, magodang ma naumetek sai mangomo partiga-tiga.
15. Sirambe nagodang ma tu sirambe anak-anak, gok ma sopo nabolon maruli sopo si anak-anak.
16. Pahibul-hibul tiang patingko-tigko galapang, pamok-mok namarniang pabolon-bolon pamatang.

UMPAMA PANIGATI

1. Nabingkas do botik gaja dibahen botik aili, bingkas si alali dibahen sipinggiri.
2. Nidanggurhon jarum tu napot-pot ndang di ida mata alai diida roha.
3. Dirobean pinggol tubu di nahornop pangidai jorbing anak ni mata natingkos na ni idana.
4. Madung-dung bulu godang tu dangka ni bulu suraton, marunung-unung namaroha molo adong uli buaton.
5. Diihurpas batu tarida oma, molo adong tuhas uasi (gana) alona.
6. Binarbar bagot tarida pangkona, nungnga tangkas dapot dihaol tinangkona.
7. Manuk-manuk hulabu ompan-ompan ni soru, dang pangalangkup jolmai molo di patudu parboru.
8. Dapot do imbo dibahen suarana, tarida ursa dibahen bogasna.
9. Sada sanggar rik-rik, padua sanggar lahi, donganna mar mihim-mihim, jala donganna martahi-tahi.
10. Binarbar rikrik tarida pangko, dos do utang ni parmitmit utang panakko.
11. Aus nabegu adang namalo.
12. Manunjang dibalatuk, marboa di tapian.
13. Nungnga tardege pinggol ni dalan.
14. Masuak sanggar mapopo hadudu.
15. Parraut si etek-etek.
16. Marsanggar-sanggar.
17. Nirimpu soban hape do bulu, nirippu dongan hape musu.
18. Sibalik sumpa sipatundal ni begu.
19. Marbuni-buni tusa di panjaruman. (marbuni hata ditolonan)
20. Disarat hodongna mangihut lambena, sae gorana, lea rohana di pandena.
21. Disuru manaek ditaba di toru.
22. Sarung banua, monsak humaliang bogas, tata natinutungan, marimbulu natinanggoan.
23. Marurat ni langgumgum, marparbue di pandoran, patampak-tampak hundul pulik-pulik hata ni dohan.

PARUHUMAN

1. Dang tarbahen sasabi manaba hau, dang tarbahen tangke mangarambas.
2. Timbang ma daon ni natutu, gana daon ni torpa (daho).
3. Tiris ni hudon tu toru, tiris ni solu do tu ginjang.
4. Naolo manutung-nutung, naolo mangan sirabun, naolo manangko naolo mangan sirabun.
5. Disi pege mago disi manutu-nutu.
6. Disi banggik maneak disi asu martunggu.
7. Ndang bolas manaputi ia soadong bulung, dang bolas mangarahuti ia soadong tali.
8. Andalu sangkotan ni bonang. (manggarar ma natalu, siadapari gogo)
9. Sisoli-soli uhum, siadapari gogo.
10. Dongan sotarhilala, musu sohabiaran.
11. Asa sibarung doho si bontar andora, tung taranggukkon ho so binoto lapang ni gora.
12. Tu ginjang manjalahi na rumun tu toru manjalahi na tumandol.
13. Tinallik hodong bahen hait-hait ni palia, tagonan na martondong, sian na marsada ina.
14. Buruk-buruk ni saong tu aos-aos ni ansuan, molo gabe taon ingkon olo manggarar utang.
15. Seak-seak borhu madabu tu bonana, tanda ni anak, patureon ni amana.
16. Si idupan do nauli, si saemon do nahurang.
17. Ndang suhat be nunga bira, ndang tuhas be nungnga tarida.
18. Molo adong unsimmu, dada gaol mu mardo, ai molo adong panuhormu, ndada ho pandobo.
19. Rompu tuju, si dua gumo, molo so malo pangulu dapotan duri.
Rompu tuju, sidua gumo, molo malo pangulu dapotan uli.
20. Siuangkap batang buruk, sibarbar na niampolas.
21. Sada umpaka hite, luhut halak marhitehonsa.
22. Lulu anak, lulu tano, lulu boru, lulu harajaon.
23. Simbar dolok sitingko ulu balang, boi tu hasundutan boi tu habinsaran.

HATA ANDUNG

Hata ni andung : Ia mula ni hata andung sian Tuan Sori Mangaraja do i. Alai ido mula ni dungdang, mula ni hata-hata, mula ni saem, parguri-guri si jonggi, parmual sitio-tio, parsagu-sagu nadua sada hundulan, parmombang napitu, nagaram di panggaraman nagurum di pangguruman, natangkas dihata-hata nasungkun di undang-undang. Raja urat ni ubi, raja tiang ni tano nasungsang parmonangan horbo paung ni portibi, natumombang tano Balige. Balige Raja, Balige marpindan-pindan, hamatean ni Niro. Mula ni andung i MINANGSIHON, ima nalaho ibana taripar lautan tu tano Batang Toru mangalului partondung laho manungkun Debata Mulajadi, ala logo ari hatihai, pitu taon lelengna di Toba nabalau.
Songon i muse di namamulung ibana nasa goar ni pulung-pulungan tu tombak, na gabe miak ni parsibasoan, suang i muse nalao ibana tu tano Mandailing, masi ate-ate ni bosi pusu-pusu ni bosi, nagabe surik ni sibaso nabolon i, ima piso solam debata dohot hujur siringis ima nataripar tu si Raja Oloan sian Sibagot Ni Pohan.

HATA NI ANDUNG .-

1. Simanjujung : Ulu
2. Sitarupon : Obuk
3. Sipareon Pinggol
4. Simalolong : Mata.
5. Silumandit : Igung.
6. Simangkudap : Pamangan.
7. Gugut : Ipon.
8. Simangido : Tangan.
9. Siubeon : Butuha.
10. Simanjojak : Pat.
11. Sirimpuron : Jari-jari.
12. Simatombom : Botohon dohot hae-hae.
13. Among parsinuan : Amana parsinuan.
14. Inong namangintubu : Inong niba.
15. Ama namartunas : Ama paidua.
16. Inong namartunas : Inong paidua.
17. Sisumbaon : Pahompu.
18. Ompung sisombaon : Ompung.
19. Tulang/Ibebere : Sibijaon.
20. Silansapon : Lae/Eda.
21. Sinumbane : Namboru/paraman.
22. Nabinalos : Simatua/Hela/Parumaen.
23. Situriak : Panghataion.
24. Simanangi : Parbinegean.
25. Simalongkon : Parnidaan.
26. Silumallan : Ilu/aek.
27. Sitipahon : Ulos.
28. Sitabean : Tujung.
29. Sigumorsing : Mas.
30. Sihumisik : Ringgit.
31. Paiogom : Indahan/Parbue/Eme.
32. Bona ni paigon : Bona ni eme.
33. Sidumuhut : Duhut.
34. Tonga ni lobangon : Hauma.
35. Sibonggaran : Bonggaran.
36. Silumantahon : Horbo.
37. Silomlom ni robean : Lombu.
38. Sijambe ihur : Hoda.
39. Bulung ni lopian : Biru-biru.
40. Siteuon : Biang.
41. Simarhurup : Manuk.
42. Tonga ni asean : Jabu bale-bale.
43. Siatukolan : Jabu sopo.
44. Siagalangon : Jabu ruma.
45. Bulu situlison : Jabu ruang tano.
46. Siruminsir : Solu, Kapal, Motor.
47. Silogo-logo : Kapal terbang.
48. Silali piuan : Iaher.
49. Sihais mira : Kapal pemburu.
50. Sibanua rea : Mariam, tomong.
51. Sitengger dibanua : Bodil.
52. Sijambe jalang : Roket.
53. Simaninggal dipea : Bom.
54. Sigargar dolok : Bom atom.
55. Babiat dipittu : Anak na begu.
56. Gompul dialaman : Raja.
57. Parjaga-jaga dibibir pustaha ditoloan : Pamollung.
58. Holi-holi so mansandi parjari-jari so mansohot : Tungkang.
59. Gokkonon botari alapan manogot : Datu/Raja/Tukkang.
60. Toru ni situmalin : Kuburan.
61. Bona ni ubeon : Buha baju.
62. Punsu ni ubeon : Siampudan.
63. Goar soltpe : Panggoaran.
64. Hau sinaiton : Hau/Btng ni namate/ranting.
65. Silumambe hodong : Bagot.
66. Papan narumimbas : Papan ni jabu.
67. Rindang sibalunon : Amak.
68. Dolok simanabun : Dolok.
69. Langit ni sihadaoan : Taripar laut.
70. Urat naibongkion : Dengke.
71. Juhut tinanggoan : Juhut.
72. Sirumantos : Raut, Hujur,giringan.
73. Natoga bulung : Naung tubu.
74. Didadang ari diullus alogo : Dihasiangon.
75. Sirumata bulung : Napuran.
76. Silumambe hodong : Saga-saga.
77. Sirumonggur : Ronggur.
78. Lombang simanamun : Lombang.
79. Suga nasomarpatudu : Honas todos naso marsala.
80. Godung naso marhinambor : Nasomarala.
81. Mansitairon : Manarus.
82. Songon tungko nisolu ganup ni panabian : Leleng marsahit.
83. Mangganupi siarianan, mangganupi sihabornginan : Leleng dipauli.
84. Hatipulan simanjujung, haponggolan simanjojak : Ina namabalu.
85 Hatompasan tataring : Ama namabalu.
85. Mapurpur tuangin nahabang tu alogo : Naso marrindang.
86. Naso martunas : Naso maranak.
87. Siparumpak balatuk soadong pajongjongkon : Napurpur
sisapsap bahal dang adong namangungkap
88. Marsada-sada bulung songon halak nalungun- : Sisada-sada/sada sabutuha lungunan tandiang nahapuloan
89. Sibane-bane lili so sumungkar : Nalambok.
90. Silumaksa ijur : Uta uta ni tohuk, sira.
91. Mangungkit sibonggaron : Pabalik uma.
92. Mambuat sidumuhut : Marbabo.
93. Sipatuduhon luha sipapatar pangea, tanduk mambu : Nungga gok harorangon, sotampil sipasingot, soboi siajaron.
94. Sanjongkal bulu dua dopaan tolong, poga-poga : Sian etek nahansit
diulu pinagodang ni sidangolan
95. Namardingdinghon dolok namarhorihorihon ombun : Taripar dolok simanamun dilangit sihadaoan Taripar tao silumallan.
96. Lombu-lombu nabidang tula-tula ni hapal, : Tarhirim ibana.
tungkot dinalandit huat-huat dinagolap.
97. Hais tujolo tandak tupudi, lombu panguge : Dipajolo anangkonna
horbo panampar

komentar (0) / Read More